Suasana diskusi. Foto by Kopi Kalpas.

KOTA BLITAR – Aktivis literasi Blitar, Fahrizal Aziz, kembali menghidupkan ruang diskusi buku di Kota Blitar. Kamis malam, 12 Februari 2026, ia berbicara tentang sosok besar sastra Indonesia, , dalam acara yang digelar di Kopi Kalpas mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB.

Diskusi tersebut menghadirkan Iw Tualang dari dan dimoderatori Reyda Hafis dari . Acara ini merupakan kolaborasi antara dan Tualang Buku, serta dibuka dengan sajian musik dari musisi muda Blitar, yang membawakan beberapa lagu akustik sebagai pengantar suasana.

Siapa Pramoedya Ananta Toer?

Dalam pemaparannya, Fahrizal lebih dulu menjelaskan siapa sosok Pramoedya Ananta Toer, atau yang akrab disapa Pram. Lahir di Blora pada 6 Februari 1925, Pram dikenal sebagai salah satu novelis terbesar Indonesia. Ia adalah pengarang puluhan karya penting, termasuk Tetralogi Buru yang mendunia.

Namun, Pram bukan sekadar penulis produktif. Ia adalah saksi hidup sejarah Indonesia. Ia mengalami penjara pada masa Orde Lama, hingga Orde Baru. 

Bahkan, selama bertahun-tahun ia ditahan di Pulau Buru tanpa proses pengadilan yang jelas. Dari pengalaman hidup yang keras dan penuh tekanan itulah lahir karya-karya yang kuat, tajam, dan sarat kritik sosial.

“Pram itu penulis besar. Karyanya wajib dibaca,” tegas Fahrizal di hadapan peserta diskusi di sudut kedai kopi malam itu.

Menurutnya, keunggulan Pram dibanding penulis lain bukan hanya pada gaya diksi yang khas dan memikat, tetapi juga pada kedalaman riset serta kekuatan karakter tokoh-tokohnya.

“Yang membuat karya Pram terasa sangat bernyawa adalah hidupnya sendiri yang penuh lika-liku. Ia tidak menulis dari ruang hampa. Ia menulis dari pengalaman nyata, dari ketidakadilan yang ia alami sendiri,” jelas Fahrizal.

Pram dan Ketidakadilan

Fahrizal menekankan bahwa tema ketidakadilan hampir selalu hadir dalam karya-karya Pram. Hal itu bukan tanpa sebab.

“Pram sering bicara soal ketidakadilan, karena Pram adalah korban ketidakadilan itu sendiri,” ujarnya.

Sebagai seorang yang pernah dipenjara tanpa pengadilan dan dibungkam karya-karyanya, Pram memahami secara langsung bagaimana kekuasaan dapat menindas suara kritis. Karena itu, tulisannya tidak sekadar bercerita, tetapi juga menggugat.

Diskusi malam itu tidak membahas karya Pram yang tebal dan monumental seperti Bumi Manusia. Fahrizal justru memilih novel yang relatif pendek dan reflektif, yakni Bukan Pasar Malam.

Mengapa “Bukan Pasar Malam”?

Fahrizal mengaku dirinya tidak terlalu berani mengomentari karya-karya besar Pram yang sudah banyak dikaji akademisi.

“Karya Pram itu sangat besar. Saya merasa perlu rendah hati. Karena itu ketika diminta membahas Pram, saya memilih karya yang pendek, tapi reflektif dan sangat kuat,” katanya.

“Bukan Pasar Malam” adalah novel pendek, sekitar 100 halaman, namun sarat makna. Novel ini bercerita tentang seorang perantau di Jakarta yang harus kembali ke Blora karena ayahnya sakit keras.

Cerita berlatar masa pasca kemerdekaan Indonesia. Situasi sosial-politik saat itu masih belum stabil. Perang gerilya, kemiskinan, dan ketidakpastian ekonomi menjadi latar belakang yang menyelimuti kisah keluarga tersebut.

Yang unik, menurut Fahrizal, novel ini tidak menyebutkan nama tokoh secara spesifik. Pembaca hanya mengenal sebutan seperti “aku”, “ayah”, “paman”, “adik”, atau “dokter”.

“Ini yang membuatnya intim dan universal. Seolah-olah itu bisa terjadi pada siapa saja. Kita bisa merasa menjadi ‘aku’ dalam cerita itu,” ujarnya.

Relevan di Era Sekarang

Meski ditulis puluhan tahun lalu, Fahrizal menilai “Bukan Pasar Malam” masih sangat relevan dengan kondisi hari ini. Novel itu berbicara tentang idealisme, kekecewaan, pengorbanan, dan benturan antara harapan kemerdekaan dengan realitas pahit kehidupan sehari-hari.

Dalam cerita, sang ayah digambarkan sebagai sosok pejuang yang hidupnya sederhana dan penuh pengabdian. Namun setelah kemerdekaan, ia justru hidup dalam kondisi serba susah. Situasi ini menjadi refleksi tajam tentang bagaimana cita-cita besar bangsa sering kali berbenturan dengan kenyataan sosial yang tidak adil.

“Pram membungkus isu sosial-politik dalam cerita keluarga yang sangat manusiawi. Itu yang membuatnya epik,” kata Fahrizal.

Diskusi berlangsung hangat. Peserta silih berganti mengajukan pertanyaan, mulai dari konteks sejarah novel hingga relevansinya dengan kondisi Indonesia hari ini.

Ruang Literasi yang Terus Menyala

Acara yang digelar Kokofonian dan Tualang Buku ini menunjukkan bahwa ruang-ruang literasi di Blitar terus tumbuh. Di tengah gempuran media sosial dan budaya instan, diskusi buku tetap menemukan tempatnya.

Bagi Fahrizal, membicarakan Pramoedya bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga merawat kesadaran kritis generasi hari ini.

“Membaca Pram itu seperti bercermin. Kita diajak jujur melihat sejarah, melihat diri sendiri, dan melihat bangsa ini,” pungkasnya.

Malam itu, di antara aroma kopi dan petikan gitar Andi Sahaja, nama Pramoedya Ananta Toer kembali bergema sebagai suara yang tak pernah benar-benar bisa dibungkam. [Rury]