BLITAR – Bagi sebagian orang, kopi adalah pelengkap pagi. Bagi Fahrizal Aziz, kopi adalah ritme hidup. Setiap hari ia menghabiskan dua gelas kopi.
Bukan gelas besar ala kafe kekinian, melainkan gelas kecil. Tanpa gula. Konsisten, sederhana, dan tanpa banyak kompromi.
“Kopi itu nggak perlu banyak-banyak. Yang penting pas,” ujarnya santai.
Kebiasaan ngopi Fahrizal sudah berlangsung lama. Sejak dulu, kopi di rumahnya tak pernah absen.
Menariknya, ia bukan tipe peminum kopi yang mengejar rasa manis. Gula hanya dipakai sesekali, itu pun tergantung jenis kopinya.
Menurutnya, kopi single origin yang bagus sejatinya tak membutuhkan gula.
“Kalau single origin, tanpa gula pun sudah enak. Rasanya keluar,” katanya.
Lain cerita jika berhadapan dengan kopi sachet. Ia mengaku terpaksa menambahkan gula.
Kopi sachet belum tentu murni kopi. Ada campuran lain yang membuat rasa pahitnya tidak seimbang jika diminum polos.
Soal biji kopi favorit, Fahrizal justru mengaku bingung. Ia tidak fanatik pada satu jenis tertentu. Namun jika harus memilih antara dua nama besar, Kalosi dan Gayo, ia punya pandangan tersendiri.
Kalosi berasal dari dataran tinggi Enrekang, Sulawesi Selatan. Kopi ini dikenal punya karakter body yang tebal, aroma earthy, dan rasa yang dalam.
Sementara Gayo berasal dari dataran tinggi Aceh Tengah, Aceh. Ciri khasnya adalah aroma harum, acidity seimbang, dan aftertaste bersih.
“Dua-duanya enak. Tinggal suasana hati saja,” katanya sambil tertawa.
Selain kopi-kopi besar itu, Fahrizal juga menaruh perhatian pada kopi lokal. Kopi Blitar, misalnya.
Jenisnya excelsa, yang oleh warga setempat sering disebut kopi nangka karena aromanya yang khas, menyerupai buah nangka matang.
Rasanya unik, sedikit asam, dengan karakter yang berbeda dari arabika atau robusta.
Namun dari sekian banyak pilihan, ada satu merek kopi yang paling cocok di lidahnya: Brontoseno.
“Tanpa gula pun enak,” tegasnya.
Kopi Brontoseno digiling sangat halus. Saking halusnya, sering dipakai untuk cethe rokok oleh sebagian orang.
Tekstur ini membuat ekstraksi rasa lebih kuat, bahkan ketika diseduh sederhana. Tak heran jika sejak dulu, kopi di rumahnya hampir selalu Brontoseno.
Rutinitas ngopi Fahrizal juga teratur. Pagi hari, ia ngopi setelah sarapan. Setelah itu, aktivitas kerja dimulai dari pukul 09.00 hingga 14.30.
Kopi menjadi semacam penanda transisi: dari rumah menuju fokus kerja.
Sore atau malam hari, biasanya selepas magrib, ia kembali ngopi. Kali ini suasananya berbeda. Lebih tenang.
Kopi menemani kegiatan membaca buku atau menulis blog.
“Ngopi sambil baca atau nulis itu nikmatnya beda,” ujarnya.
Namun jika sedang tidak ada agenda, ritmenya bisa berubah. Malam hari justru menjadi waktu ngopi yang paling sering.
Ia memilih keluar rumah, nongkrong bersama teman-teman. Kopi tetap jadi pilihan utama, bukan sekadar minuman, tapi alasan untuk berbincang panjang.
Dari semua minuman yang ia konsumsi, kopi adalah yang paling sering. Ia mengaku menyukai minuman lain, tapi tidak ada yang membuatnya “senagih” kopi.
Ada daya tarik yang sulit dijelaskan: aroma, rasa, dan suasana yang menyertainya.
Matcha pun ia suka. Tapi hanya sesekali.
“Iya, suka. Tapi nggak tiap hari,” akunya jujur.
Kebiasaan ngopi dua gelas sehari, tanpa gula, dengan pilihan kopi yang jelas, menunjukkan satu hal: bagi Fahrizal Aziz, kopi bukan tren, bukan gaya hidup yang dipamerkan, tapi kebiasaan yang dijalani dengan sadar.
Ia tahu apa yang diminum, kapan diminum, dan kenapa ia meminumnya.
Di tengah budaya kopi yang semakin ramai dengan istilah rumit dan alat mahal, kebiasaan Fahrizal justru terasa membumi.
Gelas kecil, tanpa gula, kopi yang dikenal sejak lama. Barangkali, di situlah kenikmatan kopi yang sebenarnya.
0 Komentar