Kemajuan literasi di suatu daerah selama ini kerap diukur dari bertambahnya jumlah perpustakaan.
Mulai dari perpustakaan desa (Perpusdes) hingga Taman Bacaan Masyarakat (TBM), indikator fisik ini dianggap sebagai tanda positif meningkatnya minat baca masyarakat.
Namun, pandangan tersebut mulai dipertanyakan oleh pegiat literasi asal Blitar, .
Menurut Fahrizal, melihat perkembangan literasi semata dari jumlah institusi seperti Perpusdes dan TBM adalah cara pandang yang terlalu sempit. Ia menilai, ada aspek yang jauh lebih penting namun sering terabaikan, yakni tumbuhnya komunitas literasi berbasis masyarakat yang bersifat organik.
“Literasi itu jangan selalu dilihat dari berapa banyak perpustakaan yang berdiri. Komunitas masyarakat juga penting karena di situlah biasanya aktivisme literasi tumbuh,” ujarnya.
Ia mencontohkan keberadaan lapak baca, komunitas menulis, hingga forum diskusi kecil yang sering muncul secara mandiri di tengah masyarakat. Menurutnya, ruang-ruang seperti ini justru menjadi tempat lahirnya gagasan-gagasan kritis.
Fahrizal bahkan menyoroti bahwa aktivis literasi yang memiliki daya kritis tinggi justru jarang muncul dari lingkungan formal seperti Perpusdes atau TBM. “Biasanya yang kritis itu tumbuh dari komunitas. Mereka terbiasa berdiskusi, mempertanyakan, dan merespons isu sosial,” jelasnya.
Dalam pandangannya, literasi tidak hanya berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga harus melahirkan kepekaan terhadap realitas sosial. Ia menekankan bahwa pembaca buku seharusnya memiliki kemampuan berpikir dialektis, mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, serta berani mengkritisi kebijakan publik.
“Kalau orang sudah terbiasa membaca, harusnya dia juga peka. Kritisisme itu bagian dari generasi literate,” tambahnya.
Meski demikian, Fahrizal tidak menafikan peran penting Perpusdes dan TBM. Ia justru mengapresiasi meningkatnya jumlah fasilitas tersebut di berbagai wilayah, termasuk di Blitar. Menurutnya, keberadaan perpustakaan desa dan taman bacaan tetap menjadi fondasi awal dalam membangun budaya literasi, terutama bagi anak-anak.
“Rata-rata pengunjung Perpusdes dan TBM itu anak-anak. Itu bagus, karena memang pondasinya di situ,” katanya.
Ia juga menyinggung program bantuan buku dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang mendistribusikan sekitar 1.000 eksemplar buku ke berbagai daerah. Namun, ia mencatat bahwa sebagian besar buku tersebut merupakan buku anak-anak.
“Perpusdes bagus, TBM juga keren. Lanjutkan saja,” ujarnya.
Meski demikian, Fahrizal mengingatkan agar keberhasilan literasi tidak hanya diukur dari banyaknya bangunan atau koleksi buku. Ia menilai, indikator yang lebih penting adalah seberapa banyak narasi, gagasan, dan tulisan yang lahir dari para pegiat literasi.
Menurutnya, literasi yang hidup adalah literasi yang mampu merespons isu-isu sosial di sekitarnya. Tanpa itu, aktivitas membaca hanya akan menjadi rutinitas tanpa dampak yang signifikan.
“Jangan cuma dihitung jumlah institusinya. Lihat juga, ada berapa banyak narasi yang lahir dari aktivis literasi,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Fahrizal melontarkan pertanyaan yang cukup menohok, sekaligus mengundang refleksi.
“Kalau tidak melahirkan apa-apa, terus ngapain baca buku? Dapat apa?” pungkasnya.
Pernyataan ini seakan menjadi pengingat bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan proses panjang untuk membentuk cara berpikir, kepekaan sosial, dan keberanian bersuara di tengah masyarakat.

0 Komentar