Suara Sastra kembali menggelar pertemuan rutinnya pada Ahad, 24 Mei 2026. Memasuki edisi ke-74, kegiatan ini berlangsung di kawasan Pasar Wage Kota Blitar atas undangan Kedai Kopi Sinar Remaja, sebuah kedai yang belakangan aktif menjadi ruang berkumpul anak muda dan pegiat seni.

Acara dimulai sekitar pukul 10.30 WIB dengan suasana santai khas ruang diskusi komunitas. Deretan kursi sederhana, aroma kopi yang menguar, serta lalu lalang aktivitas pasar menghadirkan atmosfer unik bagi para peserta yang hadir. 

Meski berada di tengah kawasan perdagangan, kegiatan sastra tersebut justru terasa akrab dan intim.

Pada edisi kali ini, Ahmad Fahrizal Aziz dipercaya menjadi host acara. Dengan gaya santai namun komunikatif, ia memandu jalannya forum mulai dari pembukaan hingga sesi pembacaan puisi.

Kegiatan dibuka dengan sekapur sirih dari pengelola Kedai Kopi Sinar Remaja, Mas Gandi. Dalam sambutannya, ia menjelaskan alasan mengapa kedainya tertarik berkolaborasi dengan Suara Sastra.

Menurutnya, nama Sinar Remaja bukan sekadar identitas usaha kopi, tetapi juga sebuah harapan agar tempat tersebut dapat menjadi “sinar” bagi para remaja dan anak muda yang ingin berkembang melalui ruang kreatif.

“Kami ingin Sinar Remaja tidak hanya menjadi tempat minum kopi, tetapi juga ruang bertemu, berdiskusi, dan mengapresiasi karya seni. Karena itu kami merasa senang bisa berkolaborasi dengan Suara Sastra,” ujarnya di hadapan peserta.

Kolaborasi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana ruang usaha kecil mulai membuka diri terhadap kegiatan seni dan literasi. 

Di tengah budaya nongkrong yang semakin berkembang di kalangan anak muda, keberadaan forum sastra di kedai kopi menjadi alternatif kegiatan yang lebih reflektif dan produktif.

Setelah sambutan, acara berlanjut ke sesi perkenalan peserta. Menariknya, sebelum membacakan puisi, setiap peserta diminta memperkenalkan diri sekaligus menjawab satu pertanyaan dari host, yakni “apa yang akhir-akhir ini ingin dihindari?”

Pertanyaan sederhana tersebut justru memunculkan banyak jawaban unik dan beragam. Ada peserta yang mengaku ingin menghindari orang-orang toxic karena dianggap menguras energi dan pikiran. Ada pula yang ingin menjauh dari media massa dan arus informasi yang terlalu ramai.

Sebagian peserta menjawab dengan nada bercanda, namun tetap menyimpan makna reflektif. Misalnya ada yang ingin menghindari cinta, menghindari obat kimia, hingga menghindari ekspektasi berlebihan terhadap hidup.

Jawaban-jawaban tersebut membuat suasana forum terasa cair. Beberapa peserta tertawa, sementara yang lain tampak mengangguk setuju karena merasa dekat dengan pengalaman serupa.

Momen ini menjadi pengantar yang menarik sebelum memasuki sesi utama pembacaan puisi. Sebab dari jawaban spontan tersebut, terlihat bagaimana keresahan anak muda hari ini tidak jauh dari persoalan relasi sosial, tekanan hidup, hingga kelelahan mental akibat derasnya arus informasi.

Sesi pembacaan puisi kemudian berlangsung secara bergantian. Para peserta diberi kebebasan membacakan puisi karya sendiri maupun karya penyair lain yang mereka sukai.

Tema puisi yang dibawakan pun cukup beragam. Ada puisi bernuansa satire yang menyentil kondisi sosial dan perilaku masyarakat modern. Ada pula puisi kritik yang berbicara tentang ketimpangan, keresahan generasi muda, dan situasi kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, sejumlah peserta memilih membawakan puisi romansa dengan gaya lembut dan personal. Beberapa pembacaan bahkan disambut tepuk tangan karena dianggap memiliki penyampaian yang kuat dan menyentuh.

Suasana pembacaan puisi berlangsung santai namun tetap khidmat. Sesekali terdengar suara kendaraan dan aktivitas pasar dari luar kedai, tetapi hal itu justru memberi nuansa khas tersendiri. 

Sastra seolah tidak lagi berada di ruang formal atau panggung eksklusif, melainkan hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kegiatan Suara Sastra sendiri selama ini dikenal sebagai forum terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca, mendengar, atau sekadar menikmati karya sastra. Tidak ada batasan usia maupun latar belakang tertentu. Siapa pun bisa datang dan ikut terlibat.

Hal tersebut terlihat dari keberagaman peserta yang hadir dalam edisi kali ini. Ada mahasiswa, pegiat komunitas, penikmat kopi, hingga anak muda yang baru pertama kali mengikuti forum sastra.

Bagi sebagian peserta, forum seperti ini menjadi ruang untuk melatih keberanian berbicara dan mengekspresikan diri. Sementara bagi yang lain, kegiatan sastra menjadi sarana melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Di tengah dominasi hiburan digital dan media sosial, forum tatap muka seperti Suara Sastra memberi pengalaman berbeda. Orang-orang dapat saling mendengar secara langsung, merespons karya dengan spontan, dan membangun percakapan yang lebih hangat.

Selain menjadi ruang apresiasi karya, kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa sastra masih memiliki tempat di tengah kehidupan anak muda. Puisi tidak hanya dipandang sebagai karya serius yang sulit dipahami, tetapi juga media sederhana untuk menyampaikan keresahan, kritik, maupun perasaan personal.

Kehadiran Kedai Kopi Sinar Remaja sebagai tuan rumah pun menjadi bukti bahwa ruang kreatif dapat tumbuh dari mana saja, termasuk dari sudut kedai kopi di tengah pasar kota.

Acara berlangsung hingga sekitar pukul 13.00 WIB. Setelah seluruh peserta selesai membacakan puisi, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi dan penanda kebersamaan.

Meski berlangsung sederhana, Suara Sastra edisi ke-74 meninggalkan kesan hangat bagi para peserta yang hadir. Forum ini bukan sekadar acara membaca puisi, tetapi juga ruang bertemu, berbagi cerita, dan merawat semangat berkesenian di tengah kehidupan kota yang terus bergerak cepat.

Dengan konsistensi yang terus terjaga hingga puluhan edisi, Suara Sastra menunjukkan bahwa komunitas kecil tetap mampu menjaga nyala literasi dan seni melalui cara-cara sederhana namun bermakna.