Pada suatu waktu, Ahmad Fahrizal Aziz pernah bercerita tentang nama blog pribadinya, Jurnal Rasa.
Ceritanya tidak dimulai dari gagasan besar tentang dunia literasi, juga bukan dari ambisi membuat media alternatif.
Ceritanya justru berangkat dari sesuatu yang jauh lebih sederhana, bahkan dekat dengan kehidupan sehari-hari, makanan.
Saat itu, ide awalnya cukup spesifik. Jurnal Rasa ingin dibuat sebagai blog kuliner. Tetapi bukan blog kuliner yang dipenuhi foto makanan dengan judul bombastis semacam "10 Tempat Makan Terenak" atau "Kuliner Viral yang Wajib Dicoba". Ia membayangkan sesuatu yang berbeda.
Kuliner, baginya, tidak berhenti pada urusan lidah.
Di balik sepiring makanan selalu ada cerita yang lebih panjang. Ada sejarah, ada perjalanan budaya, ada filosofi, kadang juga ada kisah manusia yang membuatnya.
Nasi pecel misalnya, tidak hanya soal sambal kacang yang dituangkan ke atas sayuran. Ada cerita tentang kehidupan agraris Jawa. Ada cara masyarakat memandang kesederhanaan. Bahkan ada perubahan sosial yang ikut memengaruhi bentuk makanannya.
Begitu pula makanan-makanan lain.
Yang ingin ditulis Fahrizal bukan soal rasanya enak atau tidak, melainkan rasa dalam pengertian yang lebih luas. Rasa sebagai pengalaman.
Tetapi gagasan yang tampak menarik di kepala ternyata tidak selalu mudah ketika mulai dikerjakan.
Menulis sejarah makanan membutuhkan data. Menulis filosofi di balik makanan menuntut pembacaan yang lebih jauh. Belum lagi mencari cerita kecil yang kadang tercecer dan sulit ditemukan. Ia menyadari bahwa menulis esai-esai kuliner seperti itu membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.
Akhirnya arah itu perlahan berubah.
Jurnal Rasa tidak lagi dibatasi menjadi rumah khusus tulisan tentang makanan. Blog itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih pribadi. Menjadi tempat menyimpan apa saja yang ingin ditulis.
Kata "jurnal" sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Jurnal di sini tidak dimaksudkan seperti jurnal ilmiah yang penuh metodologi dan catatan kaki. Jurnal lebih dekat dengan makna catatan.
Catatan kecil tentang keseharian, pengalaman, pikiran-pikiran yang lewat, atau hal-hal sederhana yang kadang luput diperhatikan.
Tidak harus berat.
Tidak harus selalu serius.
Tidak harus tampak pintar.
Sementara kata "rasa" memiliki makna yang juga agak berbeda dari dugaan banyak orang. Rasa di sini bukan rasa makanan. Bukan juga rasa dalam pengertian sentimental semata.
Rasa lebih dekat pada cara tulisan itu dinikmati.
Ada tulisan yang secara informasi mungkin sangat lengkap, tetapi terasa kering. Ada tulisan yang isinya sederhana, tetapi enak dibaca karena pilihan katanya mengalir dan meninggalkan kesan tertentu.
Mungkin seperti mendengar seseorang bercerita di warung kopi sambil menunggu hujan reda.
Karena itulah namanya menjadi Jurnal Rasa.
Catatan yang memiliki rasa.
Empat tahun sudah berlalu sejak blog itu diterbitkan. Jumlah isinya kini melewati seribu tulisan. Jumlah yang bahkan mungkin tidak terlalu disadari ketika semuanya dimulai.
Isinya juga tidak seragam.
Ada esai, ada puisi, ada cerpen, ada feature, kadang juga hanya luapan kata-kata yang muncul begitu saja tanpa rencana panjang.
Sebagian mungkin lahir dari pengalaman sehari-hari. Sebagian lagi muncul setelah membaca buku, menonton sesuatu, atau sekadar memikirkan hal kecil yang tiba-tiba terasa menarik.
Jurnal Rasa pada akhirnya berubah menjadi semacam ruang ekspresi pribadi.
Menariknya, blog itu sengaja tidak dipasangi iklan.
Di tengah internet yang dipenuhi berbagai tombol, banner, pop-up, dan berbagai cara agar orang mengklik sesuatu, keputusan itu terasa agak aneh.
Sebab Fahrizal sendiri sebenarnya juga mengelola blog lain yang lebih komersial seperti Insight Blitar atau My Psikologi.
Tetapi Jurnal Rasa dibuat berbeda.
Ia ingin tempat itu terasa lebih personal. Lebih seperti ruang duduk kecil daripada pusat perbelanjaan.
Desainnya juga sengaja dibuat sederhana. Tidak terlalu ramai. Tidak banyak gangguan visual. Pengunjung diharapkan datang, membaca, lalu menikmati pengalaman yang santai.
Bahkan pilihan domainnya pun memiliki cerita kecil.
Ia menggunakan domain my.id. Alasannya karena murah. Tetapi di balik alasan sederhana itu ada pesan lain yang ingin disampaikan. Bahwa membuat blog sebenarnya tidak mahal. Kalau mau menggunakan yang gratis pun bisa.
Karena sampai hari ini, menurutnya blog masih menjadi media yang cukup efektif.
Media sosial memang cepat. Orang bisa mengunggah sesuatu dalam hitungan detik. Tetapi media sosial sering kali terasa seperti keramaian pasar yang tidak pernah tidur. Semua orang berbicara pada saat bersamaan.
Blog sedikit berbeda.
Ia terasa lebih tenang dan lebih privat.
Media sosial mungkin bisa menjadi pelengkap untuk membagikan tulisan-tulisan dari blog. Atau sekadar menjadi semacam gubuk virtual kecil tempat mengumpulkan potongan-potongan tulisan.
Sementara rumah utamanya tetap ada di tempat lain.
Barangkali di situlah Jurnal Rasa menemukan bentuknya yang paling utuh. Bukan sekadar blog, melainkan catatan perjalanan yang pelan-pelan tumbuh bersama orang yang menuliskannya. [Intan Sari]

0 Komentar