Pada suatu sore yang gerimis di Blitar, Jawa Timur, saya pernah mendengar seorang kawan memperkenalkan Ahmad Fahrizal Aziz kepada tamu dari luar kota.
“Ini lho, penulis dari Blitar,” katanya sambil menunjuk lelaki berkacamata yang sedang sibuk memeriksa notifikasi di telepon genggamnya.
Fahrizal tertawa kecil. Bukan tertawa bangga, melainkan seperti orang yang sedang merasa ada sesuatu yang kurang pas.
“Penulis itu berat,” ujarnya pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru menarik perhatian saya. Sebab di zaman media sosial sekarang, gelar “penulis” dipakai sangat longgar.
Orang membuat satu utas panjang di internet, lalu disebut penulis. Membuat caption reflektif tiga paragraf, disebut penulis.
Bahkan kadang baru menyalin ulang pendapat orang lain dengan bahasa berbeda pun sudah dianggap bagian dari dunia kepenulisan.
Fahrizal termasuk orang yang agak hati-hati memakai istilah tersebut untuk dirinya sendiri.
Menurut dia, penulis dalam pengertian klasik biasanya punya karya yang jelas, terutama buku. Ada sesuatu yang dapat disentuh, disimpan di rak, dipinjam perpustakaan, atau dibaca bertahun-tahun kemudian.
Pandangan itu tentu terdengar agak “old school” di tengah ledakan platform digital hari ini, ketika tulisan dapat hidup di blog, media daring, newsletter, bahkan media sosial pendek yang umurnya kadang hanya beberapa jam.
Namun baginya, ada semacam disiplin mental dalam dunia kepenulisan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja dari proses panjang menghasilkan karya.
Ia juga pernah mengatakan kepada saya bahwa seseorang lebih layak disebut penulis ketika benar-benar memperoleh penghasilan dari aktivitas menulis.
Syukur-syukur jika itu menjadi penghasilan utama. Sebab di situ ada unsur profesionalitas, konsistensi, sekaligus kemampuan bertahan hidup dari kata-kata.
Menariknya, fahrizal sendiri sebenarnya memenuhi syarat itu.
Ia mendapatkan penghasilan dari menulis. Tetapi sumber terbesarnya bukan dari buku, melainkan dari blog dan berbagai aktivitas digital yang berkaitan dengan pengelolaan situs.
Karena itu, ia lebih nyaman disebut blogger daripada penulis.
Pilihan istilah itu terdengar remeh, tetapi sebenarnya mencerminkan perubahan besar dunia internet dua dekade terakhir.
Pada era awal blog sekitar tahun 2000-an hingga pertengahan 2010-an, banyak orang mengira blogger otomatis identik dengan penulis.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Fahrizal termasuk orang yang cukup sering mengingatkan soal ini.
“Tidak semua blogger itu penulis,” katanya suatu kali.
Kalimat lanjutannya lebih menarik lagi.
“Dan tidak semua blogger harus punya kemampuan menulis.”
Penjelasannya cukup masuk akal. Dulu, sebelum teknologi AI berkembang seperti sekarang, banyak blogger bekerja sama dengan penulis konten.
Ada yang fokus mengurus artikel, sementara pemilik blog mengerjakan hal-hal teknis.
Dunia blogging waktu itu bukan semata urusan merangkai kalimat indah, melainkan juga soal memahami tema pasar, membaca algoritma Google, mengatur SEO, memasang template, memperbaiki tampilan WordPress, mengelola Blogger, bahkan kadang mengutak-atik Tumblr yang kini mulai jarang terdengar.
Di masa itu, saya masih ingat beberapa blogger terkenal bahkan nyaris tidak pernah menulis sendiri. Mereka lebih mirip editor, pengelola media kecil, atau operator ekosistem digital.
Tugas utama mereka memastikan situs ramai pengunjung dan menghasilkan pendapatan iklan.
Karena itu fahrizal merasa istilah blogger memiliki spektrum kemampuan yang lebih luas dibanding sekadar penulis.
Bedanya, ia kebetulan termasuk blogger yang memang bisa menulis.
Kemampuan itu bukan muncul tiba-tiba karena tuntutan algoritma internet. Ia sudah belajar menulis sejak remaja. Ketika masih sekolah, ia mengikuti kegiatan jurnalistik. Di sana ia belajar dasar reportase, teknik wawancara, cara menyusun berita, hingga memahami bahwa satu informasi kecil bisa berubah makna jika sudut pandangnya berbeda.
Sesudah itu ia masuk komunitas kepenulisan. Di lingkungan itu, dunia menjadi lebih puitis sekaligus lebih rumit. Ia belajar menulis puisi, cerpen, dan membaca berbagai karya sastra yang sebelumnya terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.
Ada masa ketika anak-anak muda di kota kecil memang akrab dengan diskusi sastra di warung kopi atau halaman sekolah.
Mereka memperdebatkan Chairil Anwar, Pramoedya, atau Sapardi dengan semangat berlebihan, seolah nasib bangsa bisa berubah hanya karena satu bait puisi.
Fahrizal melewati fase itu juga.
Mungkin karena pengalaman itulah tulisannya sering bergerak di antara dua dunia: dunia teknis internet yang dingin dan dunia kepenulisan yang reflektif.
Ia bisa berbicara tentang SEO pada satu kesempatan, lalu mendiskusikan metafora dalam cerpen pada kesempatan lain.
Namun tetap saja, ketika orang menyebutnya “penulis dari Blitar”, ia tampak belum sepenuhnya nyaman.
Bukan karena merendahkan profesi penulis, justru mungkin karena terlalu menghormatinya.
Di masyarakat, istilah penulis memang lebih mudah dikenali. Orang langsung paham. Sementara kata blogger kadang dianggap sekadar pekerjaan sampingan anak internet.
Padahal di baliknya ada pengetahuan teknis, kemampuan membaca tren, memahami mesin pencari, hingga kecakapan mengelola audiens digital.
Mungkin itulah sebabnya fahrizal memilih berdiri di tengah-tengah. Ia tidak menolak disebut penulis, tetapi juga tidak buru-buru mengakuinya sepenuhnya.
Dan di zaman ketika batas antara penulis, kreator konten, blogger, dan operator AI makin kabur, keraguan semacam itu justru terasa jujur. [Intan Sari]

0 Komentar