Insight Blitar telah berjalan selama delapan tahun. Bagi sebagian pengelola media digital, usia itu mungkin layak dirayakan sebagai pencapaian. Namun bagi Ahmad Fahrizal Aziz, pendiri Insight Blitar Media, perjalanan tersebut justru belum dianggap sebagai sesuatu yang istimewa.
Menurutnya, sejak awal media ini memang dirancang untuk bertahan setidaknya selama sepuluh tahun. Karena itu, delapan tahun baru menjadi bagian dari target yang telah disusun sejak awal.
Berikut perjalanan, strategi, hingga tantangan yang mewarnai Insight Blitar selama delapan tahun terakhir.
1. Sejak Awal Ditargetkan Bertahan Selama Sepuluh Tahun
Fahrizal mengungkapkan bahwa Insight Blitar tidak dibangun dengan target jangka pendek. Sejak dirintis pada awal 2019, media ini sudah diproyeksikan memiliki usia operasional minimal sepuluh tahun.
Karena itu, delapan tahun perjalanan bukanlah garis akhir. Masih ada target yang ingin dicapai sebelum dapat menilai apakah eksperimen tersebut benar-benar berhasil.
"Kalau memang sejak awal didesain untuk sepuluh tahun, berarti delapan tahun belum bisa disebut sesuatu yang membanggakan," ujarnya.
2. Memilih Menjadi Homeless Media
Insight Blitar juga memiliki konsep yang berbeda dibandingkan media lokal pada umumnya.
Fahrizal menyebut Insight Blitar masuk kategori homeless media, yakni media yang tidak bergantung pada kantor fisik besar maupun struktur organisasi yang gemuk.
Seluruh sumber daya diarahkan agar biaya operasional tetap efisien. Dengan demikian, dana yang tersedia dapat dialihkan untuk kegiatan yang dianggap lebih penting, yakni riset lapangan dan studi literatur.
Konsep tersebut juga membuat media mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi tanpa terbebani biaya operasional yang tinggi.
3. Lebih Dekat dengan Riset daripada Produk Jurnalistik
Meski menggunakan format artikel layaknya media daring, Fahrizal menilai Insight Blitar bukan produk jurnalistik dalam pengertian sempit.
Ia lebih senang menyebutnya sebagai usaha riset informal yang mendalami berbagai sisi Blitar.
Artikel-artikelnya tidak hanya mengejar kecepatan publikasi, melainkan mencoba menghadirkan konteks sejarah, sosial, ekonomi, budaya, hingga perkembangan daerah.
Pendekatan tersebut membuat proses penulisan sering memerlukan observasi lapangan, wawancara, maupun penelusuran berbagai referensi.
4. Pernah Bercita-cita Menggunakan Bahasa Inggris
Pada tahap awal, Insight Blitar sebenarnya ingin hadir menggunakan bahasa Inggris.
Tujuannya sederhana, yakni mengenalkan Blitar kepada pembaca internasional.
Namun dalam praktiknya, produksi artikel berbahasa Inggris secara konsisten ternyata jauh lebih berat daripada perkiraan.
Keterbatasan waktu, tenaga, dan sumber daya membuat gagasan tersebut akhirnya belum dapat diwujudkan secara maksimal.
"Awalnya memang ingin menyasar pembaca luar negeri agar lebih mengenal Blitar. Tetapi membuat artikel bahasa Inggris secara rutin ternyata cukup berat," katanya.
5. Pernah Menggelar Kelas Menulis Gratis
Salah satu strategi paling menarik yang pernah dijalankan Insight Blitar adalah membuka kelas menulis tanpa biaya.
Peserta memperoleh pelatihan mulai dari jurnalistik dasar, penulisan feature, hingga esai opini.
Sebagai imbal balik, karya terbaik peserta dipublikasikan di Insight Blitar.
Menurut Fahrizal, pola tersebut merupakan bentuk simbiosis yang saling menguntungkan.
Peserta memperoleh ilmu dan ruang publikasi, sedangkan media mendapatkan pasokan artikel berkualitas.
Strategi tersebut juga menjadi solusi ketika biaya produksi konten masih menjadi tantangan besar.
6. Menekan Biaya Produksi Konten
Mengelola media digital membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Mulai dari domain, server, pemeliharaan sistem, hingga produksi artikel memerlukan anggaran yang terus berjalan.
Karena itu, Insight Blitar memilih berbagai langkah efisiensi.
Kelas menulis menjadi salah satu cara untuk memperoleh artikel tanpa harus mengeluarkan biaya produksi yang terlalu besar.
Dana yang berhasil dihemat kemudian dialihkan untuk kegiatan riset lapangan maupun pembelian referensi.
Menurut Fahrizal, kualitas informasi justru lahir dari proses penelitian yang serius, bukan semata-mata dari teknologi yang digunakan.
7. Memilih Perangkat Media yang Paling Terjangkau
Insight Blitar juga tidak mengejar penggunaan perangkat paling mahal.
Sebaliknya, media ini memilih teknologi yang dianggap cukup untuk menjalankan operasional sehari-hari.
"Agar biayanya bisa lebih dimaksimalkan buat riset. Turun ke lapangan maupun studi literatur juga membutuhkan biaya," jelas Fahrizal.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari filosofi pengelolaan media yang mengutamakan isi dibandingkan kemewahan fasilitas.
8. Pendapatan Masih Berada pada Tahap Bertahan
Sumber pendapatan Insight Blitar berasal dari beberapa jalur.
Selain iklan berbasis PPC dan CPM, media ini juga memiliki lini usaha bernama Insight Online Market (IOM).
Namun Fahrizal mengakui seluruh pendapatan tersebut masih berada pada tahap survival.
Pemasukan yang diperoleh sebagian besar digunakan kembali untuk biaya operasional media, pemeliharaan sistem, dan kebutuhan riset.
"Belum bisa disebut menghasilkan laba besar. Karena itu saya bilang belum bisa dianggap membanggakan," ujarnya sambil bercanda.
9. Mengutamakan Artikel Mendalam
Di tengah tren konten pendek yang mendominasi internet, Insight Blitar memilih jalur berbeda.
Media ini lebih banyak menerbitkan artikel yang panjang, kaya referensi, serta menyajikan pembahasan dari berbagai sudut pandang.
Fahrizal berharap setiap pembaca yang datang memperoleh pengalaman membaca yang lebih lengkap.
Ia mengibaratkan Insight Blitar seperti menu premium yang dipenuhi sumber informasi dan rujukan.
Fokus tersebut memang membuat proses produksi lebih lambat, tetapi dianggap memberi nilai yang lebih bertahan lama.
10. Tetap Bertahan Meski AI Mengubah Cara Orang Menulis
Perkembangan kecerdasan buatan turut mengubah ekosistem produksi konten.
Jika dahulu banyak orang mengikuti kelas menulis untuk belajar menyusun artikel, kini berbagai aplikasi AI mampu membantu menyusun kerangka hingga menghasilkan draf tulisan dalam waktu singkat.
Perubahan itu membuat kelas menulis yang dahulu menjadi salah satu strategi Insight Blitar akhirnya tidak lagi berjalan.
"Sekarang banyak yang menulis memakai AI. Jadi kelas menulis mungkin tidak terlalu diperlukan lagi. Barangkali yang masih penting adalah pengayaan cara berpikir," kata Fahrizal.
Meski demikian, ia tetap menikmati proses mengelola Insight Blitar.
Baginya, AI hanyalah alat. Nilai utama sebuah tulisan tetap bergantung pada kedalaman riset, ketepatan data, kemampuan membaca persoalan, dan sudut pandang penulis.
Delapan Tahun yang Masih Berlanjut
Perjalanan Insight Blitar menunjukkan bahwa membangun media tidak selalu harus mengikuti pola yang lazim.
Di balik tampilannya sebagai media digital, terdapat upaya panjang melakukan dokumentasi, pengumpulan referensi, dan penelitian mengenai Blitar.
Usia delapan tahun belum dianggap sebagai puncak perjalanan. Bagi Ahmad Fahrizal Aziz, itu masih bagian dari eksperimen yang belum selesai.
Target sepuluh tahun masih berada di depan mata. Selama masih mampu bertahan, menghasilkan tulisan yang mendalam, dan terus memperkaya pengetahuan tentang Blitar, Insight Blitar akan tetap berjalan sesuai jalur yang telah dirancang sejak awal. [Intan Sari]

0 Komentar