Ketika Sastra Menjadi Ruang Sunyi untuk Memahami Kehidupan
Tidak semua pembaca mencari buku yang menawarkan jawaban. Sebagian justru menikmati karya yang menghadirkan pertanyaan, mengajak merenung, dan membiarkan pembacanya menafsirkan sendiri maknanya.
Itulah yang membuat novel-novel Haruki Murakami memiliki tempat istimewa di hati banyak pembaca di seluruh dunia, termasuk blogger, aktivis literasi, sekaligus penikmat buku asal Blitar, Ahmad Fahrizal Aziz.
Bagi Fahrizal, membaca Murakami adalah perjalanan batin yang pelan, sunyi, tetapi meninggalkan kesan mendalam.
Dunia yang dibangun Murakami terasa ganjil, tetapi justru menghadirkan pengalaman membaca yang begitu dekat dengan kehidupan manusia modern.
Sebagai seorang blogger yang telah menulis ribuan artikel dan aktif dalam berbagai kegiatan literasi, Fahrizal melihat karya-karya Murakami sebagai contoh bahwa sastra tidak selalu harus menjelaskan segalanya.
Ada kalanya cerita justru menjadi ruang untuk merenungkan kehidupan.
Mengenal Haruki Murakami
Haruki Murakami merupakan salah satu novelis Jepang paling berpengaruh di dunia. Sejak menerbitkan novel pertamanya Hear the Wind Sing pada 1979, namanya terus melambung hingga menjadi salah satu penulis kontemporer yang hampir setiap tahun disebut sebagai kandidat kuat penerima Nobel Sastra.
Karya-karyanya telah diterjemahkan ke lebih dari 50 bahasa dan dibaca jutaan orang di berbagai negara. Keunikan Murakami terletak pada kemampuannya menggabungkan kehidupan sehari-hari dengan unsur surealisme, filsafat, musik, psikologi, dan misteri.
Mengapa Ahmad Fahrizal Aziz Menyukai Karya Murakami?
Ada beberapa alasan mengapa karya Murakami menjadi bacaan favorit Fahrizal.
1. Kesunyian yang terasa nyata
Tokoh-tokoh Murakami hampir selalu hidup dalam kesendirian.
Mereka bekerja, memasak, berjalan kaki, mendengarkan musik, atau sekadar menikmati secangkir kopi.
Tidak banyak percakapan dramatis. Namun justru dalam kesunyian itulah pembaca diajak memahami emosi manusia.
Fahrizal melihat kesunyian bukan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, kesunyian menjadi ruang untuk berpikir, membaca, dan menulis.
Pandangan itu sangat terasa dalam hampir seluruh novel Murakami.
2. Bahasa yang sederhana tetapi mendalam
Salah satu kekuatan Murakami adalah gaya prosanya.
Kalimat-kalimatnya tidak rumit.
Ia tidak berusaha menunjukkan kepiawaian bahasa melalui metafora yang berlebihan.
Sebaliknya, Murakami memilih kalimat pendek, bersih, dan mengalir seperti percakapan.
Bagi seorang blogger, gaya seperti ini sangat menarik.
Tulisan yang sederhana justru lebih mudah menyampaikan gagasan yang kompleks.
3. Banyak ruang bagi pembaca untuk menafsirkan
Murakami tidak selalu memberikan jawaban.
Sering kali sebuah misteri tetap menjadi misteri hingga halaman terakhir.
Tokoh-tokohnya pun tidak selalu memperoleh akhir yang benar-benar jelas.
Bagi sebagian pembaca hal itu membingungkan.
Namun bagi Fahrizal, justru di situlah letak daya tariknya.
Novel menjadi ruang dialog antara penulis dan pembaca.
4. Perpaduan realitas dan fantasi
Dalam novel Murakami, hal-hal aneh muncul begitu saja.
Seekor kucing bisa berbicara.
Dunia paralel hadir tanpa penjelasan panjang.
Sumur tua menyimpan misteri.
Hujan ikan turun dari langit.
Yang menarik, semua itu diceritakan seolah-olah merupakan kejadian biasa.
Teknik tersebut membuat pembaca perlahan menerima sesuatu yang mustahil sebagai bagian dari kehidupan.
5. Musik sebagai bagian dari cerita
Murakami sangat mencintai jazz dan musik klasik.
Referensi musik muncul hampir di semua novelnya.
Lagu Beatles, Mozart, Schubert, hingga Miles Davis menjadi bagian penting dalam membangun suasana.
Fahrizal menganggap unsur musik ini membuat novel terasa lebih hidup.
Seolah pembaca tidak hanya membaca, tetapi juga mendengar irama cerita.
6. Tokoh yang terasa manusiawi
Sebagian besar tokoh Murakami bukan pahlawan.
Mereka orang biasa.
Ada yang kehilangan orang tercinta.
Ada yang kesepian.
Ada yang bingung menentukan arah hidup.
Ada pula yang sedang mencari jati diri.
Justru karena sangat manusiawi itulah pembaca mudah berempati.
7. Mengangkat tema universal
Walaupun berlatar Jepang, cerita Murakami dapat dipahami siapa pun.
Tema kehilangan.
Kerinduan.
Persahabatan.
Trauma.
Cinta.
Kesepian.
Semuanya merupakan pengalaman universal.
Fahrizal menilai inilah alasan mengapa karya Murakami diterima pembaca lintas budaya.
Karya Murakami yang Sudah Hadir dalam Bahasa Indonesia
Pembaca Indonesia cukup beruntung karena sebagian besar karya penting Murakami telah diterjemahkan.
Mayoritas diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Beberapa di antaranya menjadi koleksi wajib para pencinta sastra modern.
Di antaranya:
- Dengarlah Nyanyian Angin — diterjemahkan Jonjon Johana.
- Norwegian Wood — Jonjon Johana.
- Kronik Burung Pegas — Ribeka Ota.
- 1Q84 (tiga jilid) — Ribeka Ota.
- Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya — Ribeka Ota.
- Membunuh Commendatore (dua jilid) — Ribeka Ota.
- Lelaki-lelaki tanpa Perempuan — Ribeka Ota.
- Orang Pertama Tunggal.
- Novelis sebagai Panggilan Hidup — Ribeka Ota.
- Dunia Kafka (Kafka on the Shore) — Dewi Wulansari.
- What I Talk About When I Talk About Running — Ellnovianty Nine Sjarif dan A. Fitriyanti.
Keberadaan penerjemah-penerjemah tersebut memiliki peran penting dalam memperkenalkan Murakami kepada pembaca Indonesia.
Terutama Ribeka Ota yang menerjemahkan langsung dari bahasa Jepang sehingga nuansa asli karya Murakami tetap terjaga.
Novel Favorit untuk Memulai
Bagi pembaca baru, tidak semua novel Murakami cocok dijadikan pintu masuk.
Beberapa rekomendasi yang sering dianggap ramah untuk pemula antara lain:
Norwegian Wood
Novel paling realistis Murakami.
Berisi kisah cinta, kehilangan, persahabatan, dan pencarian makna hidup.
Dengarlah Nyanyian Angin
Novel pendek yang memperlihatkan awal perjalanan kreatif Murakami.
Bahasanya ringan tetapi penuh refleksi.
Dunia Kafka
Mulai memperlihatkan sisi surealis Murakami.
Penuh simbol, mimpi, dan misteri.
Kronik Burung Pegas
Salah satu mahakarya Murakami.
Menggabungkan sejarah Jepang, psikologi, perang, dan dunia bawah sadar.
1Q84
Novel epik tiga jilid.
Memadukan kisah cinta, politik, agama, dunia paralel, dan filsafat.
Petikan Kalimat yang Menggambarkan Dunia Murakami
Ada banyak kutipan Murakami yang terus dikenang pembacanya.
Beberapa yang paling terkenal antara lain:
"Kalau kamu hanya membaca buku yang dibaca semua orang, kamu hanya akan berpikir seperti semua orang."
Kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa membaca adalah jalan memperluas cara pandang.
Sementara dalam Kafka on the Shore, Murakami menulis bahwa seseorang yang keluar dari badai bukan lagi pribadi yang sama seperti saat memasukinya.
Kalimat itu menjadi metafora tentang perubahan hidup.
Murakami juga menulis bahwa kenangan mampu menghangatkan seseorang sekaligus merobek-robeknya.
Bagi banyak pembaca, termasuk Fahrizal, kalimat sederhana seperti itu justru memiliki kekuatan yang bertahan lama.
Dalam What I Talk About When I Talk About Running, Murakami menulis bahwa rasa sakit tidak dapat dihindari, tetapi penderitaan adalah pilihan.
Sementara dalam 1Q84, ia menggambarkan bahwa mencintai seseorang dengan sepenuh hati tetap memiliki makna, meskipun tidak bisa bersama.
Murakami dan Dunia Literasi
Sebagai aktivis literasi, Fahrizal melihat Murakami bukan hanya sebagai novelis terkenal.
Ia adalah contoh bagaimana seorang penulis mampu membangun dunia yang benar-benar khas.
Begitu membaca beberapa halaman, pembaca dapat mengenali bahwa itu adalah karya Murakami.
Keunikan seperti itu menjadi inspirasi bagi siapa pun yang menulis.
Tidak harus meniru gaya Murakami, tetapi belajar menemukan suara sendiri.
Dalam dunia kepenulisan, identitas jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren.
Pelajaran yang Bisa Dipetik
Membaca Murakami mengajarkan bahwa hidup tidak selalu memiliki jawaban pasti.
Kadang seseorang hanya perlu berjalan.
Mendengarkan musik.
Memasak makanan sederhana.
Menikmati secangkir kopi.
Mengingat seseorang.
Atau menerima bahwa ada hal-hal yang memang tidak dapat dijelaskan.
Nilai-nilai semacam itu membuat novel Murakami terasa relevan hingga sekarang.
Ia tidak menawarkan solusi instan.
Ia hanya membuka ruang agar pembaca memahami dirinya sendiri.
***
Ketertarikan Ahmad Fahrizal Aziz terhadap karya-karya Haruki Murakami lahir bukan karena popularitas sang penulis, melainkan karena kedalaman pengalaman membaca yang ditawarkan.
Di balik prosa yang tenang tersimpan refleksi tentang kesepian, kehilangan, cinta, ingatan, dan pencarian makna hidup. Dunia Murakami memang penuh misteri, tetapi justru di situlah daya tariknya.
Melalui novel-novelnya, Murakami menunjukkan bahwa sastra tidak selalu hadir untuk memberikan jawaban. Kadang, sastra hanya perlu menemani pembaca melewati perjalanan batin yang sunyi.
Bagi Fahrizal, pengalaman seperti itulah yang membuat karya-karya Murakami layak dibaca berulang kali. Setiap pembacaan menghadirkan penafsiran baru, seolah novel yang sama selalu memiliki cerita berbeda sesuai dengan fase kehidupan pembacanya. Itulah kekuatan sastra yang bertahan melampaui waktu dan menjadikan Haruki Murakami sebagai salah satu penulis paling berpengaruh di dunia modern.


0 Komentar