“Jadi, Adipati Arya Blitar dan Pangeran Blitar itu sebenarnya orang yang sama atau berbeda?”
Welis menghentikan langkahnya di bawah rindang pohon asam yang menaungi kompleks makam tua di utara Kali Brantas.
Sore itu udara terasa sejuk. Di hadapan mereka, deretan nisan batu berdiri tenang, seolah menyimpan kisah yang belum selesai diceritakan.
Araya tersenyum kecil.
“Berbeda. Sangat berbeda. Hanya namanya saja yang membuat banyak orang keliru.”
“Masa?”
“Iya. Bahkan zaman hidup mereka terpaut lebih dari dua ratus tahun.”
Welis mengerutkan dahi. Selama ini ia selalu mengira kedua nama itu merujuk pada tokoh yang sama. Bukankah sama-sama memakai nama Blitar? Bukankah sama-sama bangsawan Jawa?
Araya berjalan perlahan menyusuri jalan setapak menuju salah satu cungkup makam.
“Kesalahan itu sudah sering terjadi,” katanya. “Padahal kalau kita melihat silsilah, masa hidup, sampai tempat makamnya, semuanya berbeda.”
Welis mempercepat langkah.
“Ceritakan dari awal.”
Araya berhenti di depan sebuah pohon sawo kecik yang tumbuh tua.
“Baik. Kita mulai dari orang yang dimakamkan di kawasan ini.”
“Maksudmu Adipati Arya Blitar?”
Araya mengangguk.
“Ya.”
Mereka duduk di sebuah batu datar. Dari tempat itu terdengar gemericik Kali Brantas yang mengalir tidak jauh di belakang pepohonan.
“Adipati Arya Blitar hidup pada masa akhir Kerajaan Majapahit hingga awal berdirinya Kesultanan Demak. Jadi kira-kira abad ke-15 sampai awal abad ke-16.”
Welis mengangguk pelan.
“Berarti masa peralihan kekuasaan di Jawa.”
“Tepat.”
Araya mengambil sebatang ranting lalu menggambar garis di atas tanah.
“Di sinilah banyak perubahan terjadi. Majapahit mulai melemah, sementara Islam berkembang semakin luas.”
“Lalu siapa sebenarnya Arya Blitar?”
“Ia adalah penguasa Kadipaten Balitar.”
“Wilayah yang sekarang menjadi Blitar?”
“Kurang lebih begitu. Kawasannya berada di selatan Gunung Kelud.”
Welis memandang pegunungan di kejauhan.
“Jadi dia memang benar-benar memimpin daerah ini.”
“Iya.”
Araya melanjutkan,
“Dia juga bukan bangsawan biasa. Ayahnya adalah Raden Kusen, Adipati Terung.”
“Nama itu pernah kudengar.”
“Karena Raden Kusen adalah adik kandung Raden Patah.”
Welis langsung menoleh.
“Sultan Demak pertama?”
“Benar.”
“Berarti Adipati Arya Blitar masih keponakan Raden Patah?”
“Betul.”
Welis mengangguk kagum.
“Pantas namanya cukup penting.”
Araya tersenyum.
“Bukan hanya karena keturunannya. Perannya juga besar.”
“Sebagai penyebar Islam?”
“Iya.”
Menurut Araya, Adipati Arya Blitar bersama saudaranya, Adipati Sengguruh, aktif menyebarkan Islam di wilayah Blitar, Malang, hingga daerah sekitarnya.
Masa itu bukan masa yang damai. Perubahan keyakinan sering diikuti ketegangan politik dan perebutan pengaruh antarkadipaten.
“Jadi mereka bukan hanya berdakwah.”
“Tidak.”
“Mereka juga harus berperang.”
Araya mengangguk.
“Musuh terbesarnya adalah Adipati Nilosuwarno dari Srengat.”
Welis membayangkan derap pasukan berkuda menyusuri tepian Brantas. Tombak beradu. Panah melesat. Asap mengepul dari perkampungan yang menjadi jalur peperangan.
“Bagaimana akhir hidup Arya Blitar?”
“Gugur.”
“Di mana?”
“Di tepi Kali Brantas.”
Welis menoleh ke arah sungai.
“Berarti sungai ini pernah menjadi saksi pertempuran itu.”
“Iya. Ia gugur bersama Adipati Sengguruh.”
Sesaat mereka terdiam.
Arus sungai terus mengalir, seolah membawa semua kisah masa lalu menuju laut tanpa pernah kembali.
“Lalu makamnya?”
“Di kawasan Sukorejo, Kota Blitar. Tidak jauh dari tempat kita sekarang.”
Welis mengangguk pelan.
“Sekarang aku mengerti mengapa masyarakat begitu menghormatinya.”
Araya tersenyum tipis.
“Tetapi cerita belum selesai.”
Welis tertawa kecil.
“Sekarang giliran Pangeran Blitar?”
“Benar.”
Mereka kembali berjalan.
Langit mulai berubah keemasan. Cahaya matahari menembus sela dedaunan dan jatuh di atas jalan setapak.
“Pangeran Blitar hidup jauh sesudah Adipati Arya Blitar.”
“Berapa lama?”
“Sekitar dua abad kemudian.”
“Berarti sudah bukan zaman Majapahit.”
“Sudah bukan.”
“Bukan pula zaman Demak.”
“Benar.”
“Kalau begitu?”
“Masa Kerajaan Mataram Islam di Kartasura.”
Welis mengangguk.
“Siapa nama aslinya?”
“Raden Mas Sudomo.”
“Lalu kenapa disebut Pangeran Blitar?”
“Karena ibunya adalah Ratu Mas Blitar.”
Welis tampak berpikir.
“Jadi nama Blitar pada dirinya bukan karena menjadi penguasa Blitar?”
“Tepat sekali.”
Araya berhenti sejenak.
“Itulah kesalahan yang paling sering terjadi.”
Welis tersenyum.
“Selama ini aku juga mengira begitu.”
“Banyak orang.”
Araya melanjutkan kisahnya.
Pangeran Blitar adalah putra Sunan Pakubuwana I. Setelah sang ayah wafat, takhta Mataram jatuh kepada Amangkurat IV. Namun keputusan itu tidak diterima semua anggota keluarga kerajaan.
“Lalu pecahlah perang.”
“Perang Suksesi Jawa II?”
“Iya.”
Pangeran Blitar bergabung dengan kakaknya, Pangeran Purbaya. Mereka menentang Amangkurat IV yang memperoleh dukungan VOC.
“Apakah mereka hampir menang?”
“Beberapa kali memperoleh kemenangan.”
“Lalu?”
“Pangeran Blitar bahkan memproklamasikan dirinya sebagai raja tandingan.”
Welis mengangkat alis.
“Serius?”
“Dengan gelar Sultan Ibnu Mustafa Pakubuwana.”
“Berani sekali.”
“Karena baginya, perjuangan itu bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan soal legitimasi.”
Welis mengangguk.
“Lalu pusat pemerintahannya?”
“Karta Sekar.”
Angin kembali bertiup.
Daun-daun kering beterbangan melintasi jalan setapak.
“Bagaimana akhir hidupnya?”
“Bukan karena perang.”
“Lalu?”
“Ia meninggal akibat wabah di daerah Malang pada tahun 1721.”
Welis tampak terkejut.
“Jadi bukan gugur di medan perang?”
“Tidak.”
“Dimakamkan di mana?”
“Di kompleks pemakaman keluarga Mataram di Yogyakarta, berdampingan dengan makam ibunya.”
Welis berhenti berjalan.
“Berarti makamnya sama sekali bukan di Blitar.”
“Benar.”
Ia memandang kembali ke arah kompleks makam tua yang baru saja mereka tinggalkan.
“Sekarang jelas sekali bedanya.”
Araya tersenyum.
“Coba sebutkan.”
Welis menarik napas.
“Adipati Arya Blitar hidup pada masa peralihan Majapahit ke Demak. Ia penguasa Kadipaten Balitar, keturunan Raden Kusen, berperan menyebarkan Islam, gugur di tepi Kali Brantas, dan dimakamkan di Kota Blitar.”
Araya mengangguk puas.
“Lalu Pangeran Blitar?”
“Ia hidup pada awal abad ke-18, merupakan putra Pakubuwana I, tokoh Perang Suksesi Jawa II, mendirikan kerajaan tandingan melawan Amangkurat IV yang didukung VOC, meninggal karena wabah di Malang, kemudian dimakamkan di Yogyakarta.”
“Lengkap.”
Welis tersenyum puas.
“Mereka memang sama-sama memakai nama Blitar.”
“Tetapi berasal dari dua dunia yang berbeda.”
“Satu adalah adipati lokal pada masa runtuhnya Majapahit.”
“Satunya lagi pangeran Mataram pada masa konflik suksesi.”
Matahari akhirnya tenggelam di balik Gunung Kelud. Cahaya jingga memantul di permukaan Kali Brantas, sementara bayangan pepohonan semakin panjang.
Araya dan Welis meninggalkan kompleks makam dengan langkah tenang. Hari itu mereka tidak hanya pulang membawa cerita, tetapi juga pemahaman bahwa sejarah menuntut ketelitian.
Nama yang mirip tidak selalu berarti orang yang sama. Di balik sebutan "Blitar", tersimpan dua tokoh, dua zaman, dua garis keturunan, dan dua perjuangan yang berbeda, masing-masing meninggalkan jejaknya sendiri dalam perjalanan panjang sejarah Jawa.
Ikuti terus serial cerpen Blitar dengan topik yang berbeda

0 Komentar