Ahmad Fahrizal Aziz menjadi narasumber kelas literasi Pimpinan Cabang Nayiyatul Aisyiyah Kanigoro. Rabu, 9 September 2026 di RTH Kanigoro.
4 Cara Menumbuhkan Minat Baca Sejak Kecil, Dimulai dari Melihat dan Mendengar
Membaca bukan kebiasaan yang muncul begitu saja. Ada proses panjang sebelum seseorang benar-benar merasa nyaman duduk, membuka buku, lalu tenggelam dalam halaman demi halaman.
Minat baca bisa dibentuk sejak anak-anak. Bahkan prosesnya dimulai sebelum seorang anak mampu membaca huruf. Ia melihat gambar, mendengar cerita, mengenali suara, kemudian perlahan memahami simbol dan kata.
Berikut empat hal penting yang bisa menjadi dasar untuk menumbuhkan kebiasaan membaca.
1. Membaca adalah perintah dalam wahyu pertama Al-Qur'an
Perintah membaca memiliki posisi penting dalam tradisi Islam. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah Surah Al-'Alaq ayat 1-5. Ayat pertama dimulai dengan kata Iqra', yang secara umum diterjemahkan sebagai "bacalah".
Allah SWT berfirman
اقْرَØ£ْ بِاسْÙ…ِ رَبِّÙƒَ الَّذِÙŠ Ø®َÙ„َÙ‚َ Ù¡
Ø®َÙ„َÙ‚َ الْØ¥ِنسَانَ Ù…ِÙ†ْ عَÙ„َÙ‚ٍ Ù¢
اقْرَØ£ْ ÙˆَرَبُّÙƒَ الْØ£َÙƒْرَÙ…ُ Ù£
الَّذِÙŠ عَÙ„َّÙ…َ بِالْÙ‚َÙ„َÙ…ِ Ù¤
عَÙ„َّÙ…َ الْØ¥ِنسَانَ Ù…َا Ù„َÙ…ْ ÙŠَعْÙ„َÙ…ْ Ù¥
Artinya
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
QS Al-'Alaq 96 ayat 1-5
Menariknya, ayat tersebut tidak berhenti pada perintah membaca. Ada pula penyebutan pena dan proses manusia memperoleh pengetahuan.
Membaca pada akhirnya berkaitan dengan cara manusia mengenali dunia, memperoleh pengetahuan, mempertanyakan sesuatu, dan membangun pemahaman.
Karena itu, budaya membaca tidak semestinya dipahami hanya sebagai kegiatan akademis. Membaca merupakan salah satu jalan manusia untuk belajar.
2. Minat membaca dimulai sejak kecil, bahkan sebelum anak bisa membaca
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap membaca baru dimulai ketika anak sudah mengenal huruf.
Padahal, jauh sebelum mengenal alfabet, anak sudah belajar melalui melihat dan mendengar.
Anak melihat ekspresi orang tua. Ia memperhatikan gambar dalam buku. Ia mendengar dongeng. Ia menikmati suara ketika orang tua membacakan cerita.
Dari situlah hubungan pertama antara anak dan buku dapat terbentuk.
Buku untuk anak pun tidak harus didominasi teks. Pada tahap awal, gambar justru memiliki peran besar karena anak memahami dunia melalui representasi visual.
Proporsi gambar dan teks dapat berkembang mengikuti usia dan kemampuan membaca anak. Sebagai pendekatan praktis, pada usia SD buku dapat dibuat sekitar 80 persen visual dan 20 persen teks. Memasuki SMP, proporsinya dapat bergerak menjadi sekitar 60 persen gambar dan 40 persen teks. Pada SMA, komposisinya dapat mendekati 50 persen gambar dan 50 persen teks.
Setelah kemampuan membaca dan daya abstraksi semakin berkembang, anak dapat diarahkan menuju buku yang didominasi teks, bahkan akhirnya menikmati bacaan dengan 100 persen teks.
Angka tersebut bukan aturan pendidikan yang kaku. Setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda. Prinsip utamanya adalah beban teks perlu bertambah secara bertahap, sementara kemampuan memahami bacaan ikut berkembang.
Maka, jangan buru-buru mengatakan anak tidak suka membaca hanya karena ia lebih tertarik pada buku bergambar.
Bisa jadi ia sedang berada pada tahap awal perjalanan membaca.
3. Menyukai membaca dimulai dari menemukan genre yang disukai
Ada orang yang mengatakan dirinya tidak suka membaca.
Pertanyaannya kemudian adalah, tidak suka membaca atau belum menemukan bacaan yang disukai?
Keduanya berbeda.
Seseorang yang tidak menyukai novel belum tentu tidak menyukai buku. Ia mungkin lebih tertarik pada sejarah, biografi, psikologi, sains, agama, teknologi, perjalanan, olahraga, komik, cerita horor, fantasi, sastra, atau buku-buku praktis.
Anak yang tidak tertarik membaca buku pelajaran belum tentu tidak memiliki minat membaca. Bisa jadi ia justru betah membaca komik selama berjam-jam.
Dari sini, membangun kebiasaan membaca sebaiknya dimulai dengan mencari genre yang menarik bagi pembaca.
Tidak perlu langsung memaksa membaca buku yang dianggap "bermutu" oleh orang dewasa.
Biarkan seseorang menemukan pintu masuknya sendiri.
Seorang anak bisa masuk melalui komik. Dari komik ia mengenal cerita. Dari cerita ia menemukan novel. Dari novel ia tertarik pada sejarah. Dari sejarah ia mulai membaca biografi. Dari biografi ia mungkin kemudian tertarik membaca buku pemikiran.
Perjalanan setiap pembaca berbeda.
Yang penting adalah menemukan bacaan pertama yang membuat seseorang berpikir, "Saya ingin membaca halaman berikutnya."
4. Bergabung dengan komunitas untuk menemukan rekomendasi bacaan
Membaca memang kegiatan individual, tetapi menemukan buku yang menarik sering kali membutuhkan lingkungan sosial.
Komunitas membaca dapat menjadi tempat bertukar rekomendasi. Seseorang bisa mengetahui buku yang belum pernah ia dengar, mendapatkan perspektif baru, atau menemukan penulis yang sebelumnya tidak dikenalnya.
Percakapan tentang buku juga membuat pengalaman membaca menjadi lebih hidup.
Seseorang membaca sebuah novel dan memiliki kesan tertentu. Orang lain mungkin melihat tokoh dan konflik yang sama dengan cara berbeda. Dari perbedaan tersebut muncul diskusi.
Komunitas juga dapat membantu pembaca melewati fase ketika ia sedang kehilangan minat membaca.
Ada rekomendasi buku pendek ketika seseorang belum siap membaca buku 500 halaman. Ada komik untuk pembaca visual. Ada kumpulan cerpen bagi mereka yang sulit menyediakan waktu panjang. Ada esai bagi mereka yang menyukai gagasan.
Pada akhirnya, budaya baca tidak hanya dibangun dengan menyediakan buku.
Buku perlu dipertemukan dengan pembaca yang tepat.
Anak perlu dikenalkan pada buku sejak dini. Remaja perlu diberi ruang untuk menemukan seleranya. Orang dewasa perlu memiliki lingkungan yang membuat membaca tetap menjadi bagian dari kehidupan.
Membaca bisa dimulai dari melihat gambar, mendengar cerita, menemukan satu buku yang menarik, lalu berlanjut menjadi kebiasaan.
Dari satu cerita bisa lahir rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu lahir pertanyaan. Dari pertanyaan lahir pencarian pengetahuan.
Dan mungkin, di situlah makna Iqra' menjadi semakin luas dalam kehidupan manusia.


0 Komentar