Kenapa Ahmad Fahrizal Aziz Tidak Membentuk Komunitas Blogger Blitar? Ini Alasannya


Blogger sejak 2007, tetapi tidak membentuk komunitas Blogger Blitar

Nama Ahmad Fahrizal Aziz atau yang akrab disapa Fahrizal cukup dikenal dalam aktivitas literasi di Blitar.

Jejaknya di dunia komunitas juga panjang. Ia pernah mendirikan FLP Blitar, terlibat dalam Komunitas Muara Baca, menggagas Paguyuban Srengenge, hingga kemudian aktif sebagai penggerak Gerakan Pembudayaan Minat Baca atau GPMB Kabupaten Blitar.

Dengan latar belakang seperti itu, sebenarnya cukup masuk akal jika muncul pertanyaan mengapa Fahrizal tidak membentuk komunitas blogger di Blitar.

Apalagi aktivitasnya sebagai blogger juga bukan sesuatu yang baru. Ia sudah mulai mengenal dan mengelola blog sejak 2007.

Namun sampai sekarang, gagasan membentuk komunitas blogger tersebut belum benar-benar diwujudkan.

Alasannya ternyata berkaitan dengan cara Fahrizal melihat dirinya sendiri.

Bagi Fahrizal, blog adalah wadah untuk menulis

Fahrizal menjelaskan bahwa dasar aktivitasnya sebenarnya adalah menulis.

Blog kemudian hadir sebagai salah satu wadah untuk mempublikasikan tulisan.

Menurutnya, blogger memiliki pengertian yang lebih luas. Seseorang bisa saja menjadi blogger karena mempunyai kemampuan mengelola blog, mulai dari desain, optimasi mesin pencari atau SEO, pengelolaan trafik, monetisasi, hingga berbagai aspek teknis lainnya.

Sementara dirinya lebih melihat blog dari sisi kepenulisan.

"Basic saya itu menulis. Blog adalah wadah," kurang lebih demikian cara Fahrizal menjelaskan hubungannya dengan dunia blogging.

Perbedaan cara melihat inilah yang membuatnya tidak terburu-buru menempatkan diri sebagai seorang blogger dalam pengertian profesional.

Ia memang sudah ngeblog sejak 2007. Namun perjalanan untuk benar-benar mempelajari dunia monetisasi blog baru semakin serius sekitar 2013.

Saat itu aktivitas blogging dijalaninya di sela kesibukan sebagai wartawan.

Mulai belajar Google AdSense dan dunia monetisasi blog

Sekitar 2013, Fahrizal mulai lebih serius mempelajari bagaimana blog bisa menghasilkan uang.

Salah satu pintu masuknya adalah Google AdSense.

Bagi banyak blogger pada masa itu, AdSense menjadi salah satu layanan periklanan yang menarik karena terintegrasi dengan ekosistem Google dan dapat digunakan untuk menampilkan iklan di blog.

Dari sana, Fahrizal mulai mempelajari berbagai hal yang sebelumnya tidak terlalu menjadi perhatiannya.

Ia belajar mengenai desain blog, template, SEO, trafik, penempatan iklan, sampai berbagai cara mendatangkan pengunjung.

Semakin lama, aktivitas blogging baginya tidak lagi hanya berkaitan dengan menulis.

Ada sisi teknis yang harus dipelajari.

Ada pula sisi bisnis yang perlu dipahami.

"Kalau mau menghasilkan uang dari blog, menulis saja tidak cukup," kira-kira begitu gambaran pengalaman yang ia dapatkan selama menjalani proses tersebut.

Pernah mencoba berbagai jaringan iklan

Dalam perjalanan ngeblog, Fahrizal tidak hanya menggunakan Google AdSense.

Ia juga pernah mencoba berbagai layanan periklanan lain seperti AdNow, Bidvertiser, PopAds, MGID, YlliX atau Advertica, hingga Adsterra.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa dunia blog mempunyai ekosistem yang cukup luas.

Ada blog yang dibangun untuk menyampaikan gagasan.

Ada blog yang orientasinya mendapatkan trafik.

Ada pula blog yang sejak awal memang dirancang sebagai media monetisasi.

Fahrizal kemudian mencoba membangun beberapa blog dengan fungsi yang berbeda.

Sebagian digunakan untuk menampung tulisan dan gagasan. Sebagian lainnya lebih diarahkan sebagai proyek yang bisa menghasilkan pendapatan.

Baginya, kedua fungsi tersebut tidak harus dipertentangkan.

Blog bisa menjadi ruang ekspresi sekaligus mempunyai nilai ekonomi.

Tidak merasa sebagai blogger expert

Menariknya, meski sudah hampir dua dekade mengenal blog, Fahrizal justru tidak merasa layak disebut sebagai blogger expert.

Ia menganggap dirinya masih berada pada tahap bertahan dan terus belajar.

Dalam bahasa yang lebih ringan, aktivitas blogging yang dijalaninya lebih cocok disebut sebagai survival.

Penghasilan dari blog memang pernah dan masih menjadi bagian dari aktivitasnya. Namun ia tidak melihat dirinya sebagai pemain besar dalam industri blogging.

"Kalau disebut blogger, ya mungkin. Tapi kalau expert, masih jauh," demikian gambaran sikapnya.

Menurut Fahrizal, masih banyak orang yang mempunyai kemampuan teknis jauh lebih tinggi.

Lulusan teknologi informasi, misalnya, bisa saja memiliki pemahaman teknis mengenai website yang lebih kuat. Begitu pula siswa SMK yang memang belajar teknologi dan pemrograman.

Karena itu, ia merasa tidak perlu membangun identitas sebagai ahli blogging.

Blog sebagai ruang kebebasan berpikir

Ada alasan lain yang membuat Fahrizal tetap mempertahankan aktivitas blogging sampai sekarang.

Baginya, blog memberikan ruang yang sulit diperoleh melalui media konvensional.

Blog memungkinkan seseorang mempublikasikan gagasan secara mandiri.

Tidak ada redaktur yang harus menyunting tulisan sebelum dipublikasikan. Tidak ada batasan halaman seperti media cetak. Penulis juga dapat menentukan sendiri tema, sudut pandang, desain, dan gaya penyampaian.

Bagi Fahrizal, blog adalah ruang untuk mempraktikkan kemerdekaan berpikir dan menulis.

Karena alasan itulah ia tetap ngeblog meskipun aktivitas tersebut sudah berlangsung hampir 20 tahun.

Kalau kemudian dari aktivitas tersebut bisa mendapatkan penghasilan, menurutnya itu merupakan hal yang baik.

Ngeblog untuk membayar WiFi dan ngopi

Fahrizal juga tidak terlalu serius ketika berbicara tentang penghasilan dari blog.

Ia menyebut aktivitas blogging sebagai side job yang menyenangkan.

Penghasilannya bisa digunakan untuk kebutuhan yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari sebagai penulis dan pengelola media.

Bahkan ia punya kelakar sendiri.

Ngeblog, menurutnya, lumayan untuk membantu membayar WiFi dan sesekali mentraktir teman ngopi.

Di titik ini, blogging tidak dipandang sebagai pekerjaan utama.

Ia tetap menempatkan menulis dan aktivitas literasi sebagai dunia utamanya.

Jurnal Rasa Media menjadi payung beberapa blog

Aktivitas blogging Fahrizal saat ini terus berjalan.

Ia kemudian membangun Jurnal Rasa Media sebagai payung jaringan blog yang dikelolanya.

Di dalam jaringan tersebut terdapat beberapa proyek media dan blog dengan karakter yang berbeda.

Pembentukan payung ini lebih banyak didorong kebutuhan praktis.

Pengelolaan beberapa blog akan lebih mudah jika berada dalam satu ekosistem. Widget bisa dibagikan. Konten bisa saling mendukung. Perkakas dan pengalaman teknis juga bisa digunakan lintas blog.

Dengan pola seperti ini, Fahrizal tidak harus membuat semuanya dari awal untuk setiap blog.

Ada sistem yang bisa dikembangkan bersama.

Lalu kenapa tidak membuat Blogger Blitar Community?

Gagasan tersebut sebenarnya pernah muncul.

Fahrizal sempat berpikir untuk membuat Blogger Blitar Community.

Namun gagasan tersebut akhirnya belum diwujudkan.

Kesibukan dalam aktivitas literasi menjadi salah satu pertimbangannya.

Ia mempertanyakan apakah komunitas blogger memang dibutuhkan jika dirinya sendiri tidak menjadikan blogging sebagai dunia utama.

Dunianya tetap literasi.

Membaca, menulis, komunitas literasi, dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan buku masih menjadi aktivitas yang paling dekat dengannya.

Blogging kemudian menjadi salah satu alat untuk menjalankan aktivitas tersebut.

Pernah membantu teman membuat blog

Meski tidak membentuk komunitas blogger, Fahrizal tetap beberapa kali membantu teman yang ingin membuat blog.

Biasanya mereka datang karena penasaran.

Ada yang ingin belajar membuat blog. Ada pula yang tertarik karena mengetahui blog dapat menghasilkan uang.

Untuk kelompok kedua, Fahrizal biasanya mengingatkan bahwa prosesnya tidak pendek.

Membuat blog hanyalah langkah awal.

Setelah itu masih ada pekerjaan membuat konten, memilih template, mengoptimalkan SEO, mendatangkan pengunjung, memahami berbagai jaringan iklan, hingga menyiapkan administrasi pembayaran.

Untuk jaringan iklan tertentu di luar AdSense, misalnya, blogger perlu mempunyai metode pembayaran yang sesuai seperti PayPal, tergantung ketentuan layanan yang digunakan.

Karena itu, ketertarikan terhadap uang dari blog tidak otomatis berarti seseorang akan bertahan menjadi blogger.

Ada proses panjang yang harus dijalani.

Blogging tetap menjadi bagian dari perjalanan menulis

Pada akhirnya, hubungan Fahrizal dengan dunia blogging memang sedikit berbeda dari gambaran blogger pada umumnya.

Ia tidak memulai blog karena ingin menjadi bagian dari komunitas blogger.

Ia juga tidak menjadikan blogging sebagai identitas utama.

Blog datang dari kebutuhan seorang penulis untuk mempunyai ruang publikasi sendiri.

Kemudian, setelah bertahun-tahun mengelolanya, ia mulai memahami sisi teknis dan ekonominya.

Dari blog pribadi, berkembang menjadi beberapa blog. Dari sana kemudian lahir Jurnal Rasa Media sebagai payung jaringan blog.

Sementara gagasan tentang Blogger Blitar Community masih berhenti sebagai gagasan.

Mungkin memang tidak semua aktivitas membutuhkan komunitas.

Ada orang yang menemukan dunianya melalui komunitas. Ada pula yang memilih berjalan melalui tulisan, blog, buku, dan ruang-ruang literasi.

Bagi Fahrizal, blog berada di posisi tersebut.

Blog bukan tujuan utama. Blog adalah wadah.

Dan selama masih ada sesuatu yang ingin ditulis, wadah itu masih akan tetap digunakan.