Mbah Gudel, Sosok di Balik Akronim BLITAR yang Menggali Identitas Sejarah


Nama Bambang In Mardiono mungkin tidak terlalu dikenal oleh generasi yang tidak banyak bersentuhan dengan sejarah dan kebudayaan Blitar. Namun bagi banyak pegiat sejarah, budaya, dan heritage di Blitar, nama tersebut memiliki tempat tersendiri. 

Ia lebih akrab dipanggil Mbah Gudel, seorang budayawan yang banyak mencurahkan perhatian pada sejarah dan identitas Blitar.

Salah satu gagasan yang paling dikenal dari Mbah Gudel adalah ungkapan Bumi Laya Ika Tantra Adi Raja, yang kemudian dirangkai menjadi akronim BLITAR

Ungkapan tersebut dimaknai sebagai bumi tempat pusara atau persemayaman raja-raja besar. Gagasan ini ia gunakan untuk membaca Blitar melalui jejak sejarah kerajaan yang tersebar di wilayah tersebut.

Gagasan tersebut bukan muncul tanpa latar sejarah. Blitar memiliki sejumlah situs yang berkaitan dengan masa kerajaan, termasuk Candi Penataran, Candi Simping, Candi Mleri, dan sejumlah situs lainnya. Dalam berbagai kajian sejarah, beberapa tempat tersebut dikaitkan dengan pendharmaan atau persemayaman tokoh-tokoh dari masa kerajaan.

Candi Simping, misalnya, dikenal dalam sumber sejarah sebagai tempat pendharmaan Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Sementara kawasan Blitar juga memiliki jejak yang berkaitan dengan raja-raja Singasari dan Majapahit. 

Jejak itulah yang menjadi salah satu dasar pemikiran Mbah Gudel dalam melihat Blitar bukan hanya sebagai sebuah wilayah administratif, tetapi sebagai ruang yang memiliki lapisan sejarah panjang.

Pada 2013, nama Den Bei Mardiono-Gudel tercatat sebagai penulis naskah Geliat Bhumi Laya Ika Tantra Adi Raja untuk Indonesia, yang dipresentasikan dalam sarasehan sejarah yang diselenggarakan Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kabupaten Blitar. 

Dalam tulisan tersebut, ia menjelaskan gagasannya mengenai Blitar dan hubungan wilayah ini dengan jejak para penguasa masa lalu.

Mbah Gudel juga dikenal sebagai juru kunci Istana Gebang, tempat yang memiliki hubungan erat dengan sejarah keluarga Bung Karno di Blitar. Ia turut menulis buku Napak Tilas Jejak-jejak Kaki Wong Blitar dari Masa ke Masa. Pengetahuannya tentang sejarah lokal membuatnya kerap menjadi rujukan dalam berbagai pembicaraan mengenai masa lalu Blitar.

Perhatiannya terhadap sejarah juga tidak berhenti pada tulisan. Ia disebut sebagai salah satu pendiri Blitar Heritage Society, sebuah komunitas yang bergerak dalam perhatian terhadap sejarah dan warisan budaya Blitar.

Menariknya, gagasan Bumi Laya Ika Tantra Adi Raja terus hidup setelah dirinya tiada. Istilah tersebut masih digunakan dalam kegiatan kebudayaan, pendidikan, hingga pertunjukan seni. 

Pada 2025, misalnya, frasa tersebut menjadi tema pertunjukan sendratari yang mengangkat narasi Blitar sebagai tanah agung para raja.

Mbah Gudel meninggal pada 1 November 2024 dalam usia 79 tahun. Ia meninggalkan warisan berupa gagasan, tulisan, dan cara pandang terhadap Blitar sebagai wilayah yang memiliki sejarah panjang.

Bagi Blitar, mungkin warisan terbesar Mbah Gudel bukan hanya sebuah akronim. Ia meninggalkan pertanyaan yang lebih penting tentang bagaimana sebuah daerah mengenali dirinya sendiri melalui sejarah.

**BLITAR bukan berhenti sebagai nama. Di tangan Mbah Gudel, nama itu diberi tafsir sejarah yang mengajak orang kembali melihat jejak para leluhur, raja, dan tokoh bangsa yang pernah bersemayam di tanah ini.**