Ahmad Fahrizal Aziz, atau yang akrab disapa Fahrizal, punya pandangan sendiri tentang hubungan antara blog dan buku.

Menurutnya, blog adalah wadah.

Sementara sumber gagasannya bisa berasal dari buku.

Ia melihat blog bukan sebagai pesaing buku, apalagi sebagai pengganti buku. Blog justru bisa menjadi jalan lain bagi seseorang untuk menemukan buku.

“Bukan mengganti buku dengan blog, tetapi memperluas segmen pembaca buku,” begitu kira-kira gagasan yang ia sampaikan.

Pandangan itu berangkat dari kebiasaan orang membaca di internet.

Pembaca blog biasanya datang dengan kebutuhan yang berbeda. Mereka mencari informasi yang praktis, ringkas, padat, dan mudah dipahami. 

Sering kali mereka tidak punya waktu untuk membaca puluhan atau ratusan halaman.

Mereka ingin menemukan inti persoalan terlebih dahulu.

Di sisi lain, pembaca buku memiliki ruang yang berbeda.

Membaca buku membutuhkan perhatian yang lebih panjang. Ada konteks yang perlu diikuti. Ada gagasan yang perlu dipahami secara bertahap. 

Bahkan kadang ada bagian yang harus dibaca ulang sebelum maksud penulis benar-benar terasa.

Secara psikologis, menurut Fahrizal, kebiasaan membaca blog dan membaca buku memang tidak selalu sama.

Karena itu, ia membayangkan adanya peran yang bisa dimainkan oleh blogger buku.

Caranya cukup jelas.

Seorang blogger buku membaca buku secara utuh. Setelah itu, ia menemukan topik atau gagasan yang menarik dari buku tersebut. 

Gagasan itu kemudian diolah menjadi artikel yang bisa dibaca dengan cepat oleh pembaca internet.

Di sinilah blog menjadi pintu masuk.

Misalnya seseorang membaca artikel tentang sebuah gagasan dari buku tertentu. Ia mungkin awalnya hanya tertarik pada topiknya.

Lalu di dalam artikel itu ia menemukan informasi tentang judul buku dan nama penulisnya.

Dari sana muncul rasa ingin tahu.

“Kalau pembahasannya menarik, seperti apa isi bukunya?”

Pertanyaan semacam itu justru yang diharapkan muncul.

Tujuan blogger buku bukan membuat pembaca merasa sudah membaca buku setelah membaca artikelnya.

Sebaliknya, artikel itu mestinya membuat pembaca ingin membuka bukunya.

Ada dua manfaat yang ingin dicapai.

Pertama, pembaca internet mengenal judul buku dan penulisnya.

Kedua, pembaca memperoleh alasan untuk mendalami gagasan tersebut melalui buku aslinya.

Bagi Fahrizal, di titik itulah blog dan buku bisa bertemu.

Blog mengambil gagasan dari buku, lalu membawanya ke ruang yang lebih luas.

Buku kemudian menjadi tempat pembaca melanjutkan perjalanan.

Jadi, blogger buku bukan orang yang merangkum buku agar orang tidak perlu membacanya.

Ia justru bisa menjadi upaya yang membuat pembaca menemukan alasan untuk membacanya.


Mengawinkan buku dan blog adalah hal yang sejak lama dipikirkan Ahmad Fahrizal Aziz, atau yang akrab disapa Fahrizal.

Baginya, buku dan blog adalah dua dunia yang sulit dilepaskan.

Ia berada di antara keduanya. Buku memberinya bahan untuk membaca dan berpikir. Blog memberinya ruang untuk mengolah gagasan itu menjadi tulisan yang bisa dibaca lebih banyak orang.

“Blog itu wadah. Sumbernya bisa dari buku,” begitu cara Fahrizal melihat hubungan keduanya.

Menurutnya, mengawinkan buku dan blog bukan berarti mengganti buku dengan blog. Justru sebaliknya. Blog dapat menjadi pintu masuk agar orang mengenal buku.

Ia memberi contoh apa yang dilakukannya di Insight Blitar.

Di blog tersebut, Fahrizal membuat topik khusus tentang “Budaya Jawa”. Beberapa artikelnya tidak lahir dari pencarian cepat di mesin pencari. Ia membaca buku-buku yang membahas kebudayaan Jawa, termasuk karya Prof. Koentjaraningrat dan Prof. Suwardi Endraswara.

Bukunya dibaca lebih dulu.

Setelah menemukan gagasan yang menarik, ia memilih beberapa topik untuk diolah menjadi artikel blog.

Prosesnya bukan memindahkan isi buku begitu saja.

Ia membaca, memahami, memilih bagian yang relevan, kemudian menuliskannya kembali dalam bentuk artikel yang lebih mudah dibaca oleh pembaca internet.

Di situlah menurut Fahrizal terdapat perbedaan antara blogger buku dengan orang yang hanya mencari bahan tulisan dari internet.

Internet memang menyediakan informasi dalam jumlah besar. Namun, ketika satu artikel dibuat berdasarkan artikel lain, kemudian artikel berikutnya mengambil dari artikel tersebut, sumber informasi bisa semakin jauh dari sumber awal.

Pada titik tertentu, orang bisa membaca banyak tulisan tentang sebuah tema, tetapi tidak tahu dari mana gagasan itu sebenarnya berasal.

Fahrizal mencoba mengambil jalan yang berbeda.

Ia kembali ke buku cetak.

Buku menjadi sumber awal. Blog menjadi ruang pengolahan dan penyebaran gagasan.

Cara ini juga membuat tulisan di blog memiliki lapisan informasi yang berbeda. Pembaca internet bisa memperoleh gambaran tentang sebuah topik tanpa harus langsung membaca ratusan halaman buku.

Namun, pada saat yang sama, mereka tetap diberi jalan untuk mengenal buku dan penulis yang menjadi sumbernya.

Misalnya pembaca menemukan artikel tentang konsep tertentu dalam kebudayaan Jawa di Insight Blitar. 

Dari sana ia mengetahui bahwa pembahasan tersebut memiliki sumber dari buku karya Koentjaraningrat atau Suwardi Endraswara.

Rasa ingin tahu bisa berlanjut.

Ia kemudian mencari bukunya.

Bagi Fahrizal, inilah hubungan yang ingin dibangun antara buku dan blog.

Buku menyediakan kedalaman.

Blog menyediakan pintu masuk.

Keduanya mempunyai karakter pembaca yang berbeda, tetapi bisa saling menguatkan.

Karena itu, Fahrizal tidak melihat blog sebagai pengganti buku.

Ia melihat blog sebagai ruang pertemuan.

Tempat gagasan dari buku diperkenalkan kepada pembaca baru, lalu mengantarkan mereka kembali kepada sumber yang lebih panjang.

Dengan cara itu, membaca buku tidak berhenti di halaman buku.

Gagasannya bisa berjalan lebih jauh, masuk ke internet, bertemu pembaca baru, lalu mungkin kembali lagi kepada buku yang menjadi sumbernya.