Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa dengan penutur terbanyak di Indonesia, namun variasinya sangat beragam.
Menariknya, meskipun Kabupaten Blitar dan Malang sama-sama berada di Jawa Timur dan saling bertetangga, dialek bahasa Jawa yang digunakan masyarakatnya berbeda cukup signifikan.
Secara sosiologis dan historis, perbedaan ini dapat dijelaskan melalui faktor sejarah, interaksi sosial, hingga pengaruh budaya yang membentuk karakter bahasa masing-masing daerah.
1. Sejarah Kerajaan dan Pengaruh Politik
Secara historis, Blitar memiliki keterikatan yang erat dengan Kerajaan Majapahit dan Mataram Islam. Banyak wilayah di Blitar pada masa lalu berada dalam jalur politik dan budaya Mataraman, sehingga bahasa yang berkembang di sana disebut sebagai bahasa Jawa Mataraman.
Dialek ini cenderung lebih halus, mirip dengan bahasa Jawa di Yogyakarta dan Surakarta.
Sementara itu, Malang masuk dalam wilayah yang disebut Arek-an atau lebih dikenal sebagai budaya Arek Malang-Surabaya.
Dialek bahasa Jawa Malangan (biasa disebut Boso Walikan) lebih lugas, tegas, dan bernuansa egaliter.
Hal ini dipengaruhi sejarah Malang yang menjadi pusat perlawanan dan basis militer sejak masa Singhasari, hingga era kolonial Belanda.
Dengan kata lain, Blitar dipengaruhi budaya Mataram yang hierarkis, sedangkan Malang lebih dipengaruhi budaya Arek yang egaliter. Inilah yang kemudian membedakan cara berbahasa masyarakatnya.
2. Faktor Geografis dan Mobilitas Sosial
Secara geografis, Blitar berada di bagian barat daya Jawa Timur, berbatasan langsung dengan Tulungagung dan Kediri—dua daerah yang kuat nuansa Mataramannya.
Ini membuat interaksi budaya dan bahasa Blitar lebih condong ke gaya Jawa Tengah.
Sementara itu, Malang terhubung langsung dengan Surabaya, pusat ekonomi Jawa Timur.
Mobilitas sosial yang tinggi di Malang sejak zaman kolonial—ditambah statusnya sebagai kota pendidikan dan pariwisata—menjadikan dialek Malangan lebih dinamis, penuh kreativitas, bahkan melahirkan bahasa Walikan (kata dibalik, misalnya ngopi jadi ipong).
Dengan begitu, posisi geografis Blitar yang dekat dengan Jawa Tengah membuat dialeknya lebih halus, sedangkan Malang yang dekat dengan Surabaya menjadikan bahasanya lebih kasar namun ekspresif.
3. Aspek Antropologi, Hierarki vs Egaliter
Dalam antropologi bahasa, cara orang berbicara mencerminkan struktur sosial masyarakatnya.
-
Blitar (Mataraman): masyarakatnya lebih menekankan pada hierarki sosial. Oleh karena itu, penggunaan bahasa Jawa ngoko, krama, hingga krama inggil lebih terasa jelas. Hal ini menunjukkan stratifikasi sosial yang dipengaruhi budaya keraton Jawa.
-
Malang (Arek-an): masyarakatnya dikenal egaliter. Meskipun ada tingkatan bahasa Jawa, penggunaannya tidak seketat di Blitar. Malang lebih menonjolkan ekspresi spontan, ceplas-ceplos, dan penuh humor. Bahkan muncul inovasi bahasa seperti walikan yang menjadi identitas kultural khas anak Malang.
Dengan kata lain, dialek Blitar menekankan kesopanan, sedangkan dialek Malang menekankan kebersamaan dan keakraban.
4. Peran Kolonialisme dan Urbanisasi
Pada masa kolonial Belanda, Malang berkembang sebagai kota perkebunan dan pusat militer.
Banyak pekerja dari berbagai daerah masuk ke Malang, termasuk Madura, sehingga bahasa Malang juga mendapat campuran kosakata dari Madura.
Hal ini memperkaya dialek Malangan yang lebih keras dan variatif.
Sebaliknya, Blitar cenderung lebih homogen. Masyarakat Blitar relatif lebih mempertahankan bahasa Jawa Mataraman yang klasik karena tidak mengalami urbanisasi sebesar Malang.
Hal ini pula yang membuat bahasa Jawa Blitar lebih "bersih" dari campuran bahasa luar.
5. Identitas dan Solidaritas Sosial
Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga simbol identitas.
- Bagi orang Blitar, berbicara dengan dialek Mataraman adalah cara menjaga keterhubungan dengan budaya Jawa Tengah yang menekankan unggah-ungguh (tatakrama).
- Bagi orang Malang, dialek Arek dan bahasa Walikan adalah simbol solidaritas dan kebanggaan lokal, terutama sebagai kota pendidikan dan perlawanan.
Inilah sebabnya meskipun bertetangga, kedua daerah tidak melebur menjadi satu dialek yang sama.
***
Perbedaan dialek Jawa antara Blitar dan Malang bukan sekadar variasi linguistik, melainkan hasil dari perjalanan sejarah, letak geografis, mobilitas sosial, hingga struktur sosial-budaya masyarakat.
- Blitar: dipengaruhi budaya Mataram, hierarkis, halus, penuh unggah-ungguh.
- Malang: dipengaruhi budaya Arek, egaliter, lugas, bahkan melahirkan bahasa Walikan.
Kajian sosiologis dan antropologi ini menunjukkan bahwa bahasa adalah cermin dari identitas sosial. Jadi, meskipun Blitar dan Malang berdekatan, dialek yang berbeda justru memperkaya khazanah bahasa Jawa.
Referensi:
- Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
- Benedict Anderson. Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia. Cornell University Press.
- Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008.
0 Komentar