Blitar, pukul 01.47 dini hari. Jalanan lengang. Angin berdesir pelan dari arah persawahan. Di sudut kota yang tampak seperti tertidur, perut saya justru memberontak. Lapar di jam segini bukan sekadar soal nasi. Ia soal nasib. Soal mencari cahaya di antara lampu toko yang sudah padam.
Tapi Blitar bukan kota yang benar-benar tidur. Ada warung-warung yang setia menyala. Ada dapur yang tetap mengepul sampai subuh. Dan malam itu, saya memutuskan menyusuri 10 tempat makan 24 jam di Blitar—atau setidaknya yang buka sampai dini hari—yang sering disebut orang sebagai penyelamat kaum lapar, begadang, dan sahur kesiangan.
Lampu pertama yang saya tuju ada di Jl. WR Supratman. Di sanalah Sambel Bawang Cobek Mbok Djilah berdiri. Warung ini seperti tidak mengenal kata tutup. Lele gorengnya panas, ayamnya renyah, bebeknya empuk. Sambalnya? Pedasnya tidak kompromi. Di jam dua pagi, meja-meja masih terisi. Ada sopir travel, mahasiswa, juga dua orang yang sepertinya baru selesai rapat entah apa. Mbok Djilah seperti ibu bagi mereka yang pulang terlalu malam.
Dari sana, saya bergeser ke lalapan. Kota ini memang akrab dengan sambal. Di sudut lain, Republik Lalapan masih ramai. Ayam geprek, ayam penyet, tempe tahu hangat. Harganya bersahabat. Lampunya terang, suaranya riuh. Beberapa menyebut buka 24 jam. Yang jelas, lewat tengah malam pun dapurnya masih bekerja.
Tak jauh dari pusat kota, ada nama yang hampir selalu disebut jika bicara makan tengah malam: Taman Uceng Blitar. Uceng gorengnya kecil-kecil, garing, asin-gurih. Nasinya boleh tambah. Saya duduk di kursi panjang, mengamati orang-orang yang datang dengan wajah lelah dan pulang dengan perut lega. Warung ini seperti ruang temu tanpa janji.
Blitar juga berubah. Anak-anak mudanya tak hanya cari lalapan, tapi juga suasana. Maka saya melipir ke Roketto Coffee & Co di Jl. Veteran. Kafe ini disebut buka 24 jam. Lampunya temaram, desainnya estetik. Ada yang membuka laptop, ada yang sekadar menatap layar ponsel. Kopi hitam mengepul di meja saya. Di kota kecil, kafe 24 jam adalah tanda zaman bergerak.
Kalau ingin lebih sederhana, ada Warkop Agam Patria di kawasan Patria dekat stasiun. Warkop ini hangat. Mie instan, roti bakar, kopi tubruk. Obrolan lebih kental daripada susunya. Jam berapa pun, selalu ada yang duduk, membahas politik lokal atau sekadar skor bola.
Lalu ada yang disebut-sebut sebagai hidden gem: Kadupul 24 Hours Cozy Cafe di Anjasmoro. Namanya saja sudah 24 Hours. Tempatnya nyaman untuk nugas atau rapat kecil. Di jam tiga pagi, saya melihat dua mahasiswa masih serius di depan layar. Mungkin skripsi, mungkin deadline. Kadupul seperti sahabat bagi mereka yang tak bisa pulang sebelum tugas selesai.
Pecinta lalapan punya pilihan lain: Minthul Warung Lalapan. Menu dan konsepnya mirip—ayam, sambal, lalap segar. Pedasnya membangunkan mata yang hampir terpejam. Blitar dan sambal memang seperti dua sisi koin.
Di sekitar Patria juga ada Ayam Geprek Patria. Porsinya melimpah. Harganya ramah. Jam dua atau tiga pagi, tetap saja ada pembeli. Saya sempat berpikir, mungkin ayam geprek adalah bahasa persatuan generasi begadang.
Jika ingin lebih banyak pilihan, orang biasa menuju . Tidak semua tenant 24 jam, tapi beberapa warung prasmanan buka sangat larut, bahkan sampai subuh. Nasi, sayur, telur dadar, ikan, sambal. Kita tinggal tunjuk, lalu duduk.
Dan yang paling unik, menurut saya, adalah konsep seperti Warung Kejujuran Blitar. Ambil sendiri, hitung sendiri, bayar sendiri. Menu bisa lebih dari 20 lauk. Buka 24 jam atau sangat larut. Di situ, kejujuran diuji bersama rasa lapar. Tidak ada kasir galak. Hanya kepercayaan.
Menjelang subuh, azan mulai terdengar. Saya menutup perjalanan malam itu dengan perut kenyang dan kepala penuh pikiran. Ternyata, 10 tempat makan 24 jam di Blitar bukan sekadar daftar alamat. Mereka adalah saksi. Saksi orang yang pulang kerja terlalu malam. Saksi mahasiswa yang dikejar deadline. Saksi sahur dadakan. Saksi obrolan yang tak selesai-selesai.
Di kota seperti Blitar, jam operasional kadang bisa berubah. Hari biasa beda dengan akhir pekan. Pemilik warung juga manusia, bisa lelah. Maka sebelum benar-benar berangkat, tak ada salahnya cek Google Maps atau menghubungi langsung. Tapi satu hal pasti: ketika lapar datang di jam yang tidak sopan, selalu ada dapur yang bersedia menolong.
Blitar mungkin kecil di peta. Tapi di antara sambal yang pedas, kopi yang pahit, dan lampu warung yang tak pernah padam, kota ini menyimpan cerita. Cerita tentang bertahan. Tentang bekerja. Tentang persahabatan.
Dan tentang perut yang, entah kenapa, selalu berbunyi paling keras saat malam paling sunyi.

0 Komentar