Penulis dan aktivis literasi A Fahrizal Aziz atau yang akrab disapa Fahrizal kembali melontarkan pernyataan reflektif yang memantik diskusi publik.
Dalam sebuah catatan terbarunya, Fahrizal membagi ide menjadi tiga jenis. Sederhana. Tapi menohok.
“Setidaknya ada tiga jenis ide,” kata Fahrizal dalam keterangannya, Jumat (28/2/2026).
Menurutnya, banyak orang gemar menggagas sesuatu. Namun tidak semua ide punya peluang eksekusi yang sama.
Di situlah sering muncul kekecewaan—merasa punya gagasan brilian, tetapi tak pernah terwujud.
Jenis pertama adalah ide yang bisa dikerjakan sendiri.
“Ide yang bisa dikerjakan sendiri, artinya kita sebagai pelakunya langsung. Lebih mudah ide itu untuk dieksekusi,” ujar Fahrizal.
Ia mencontohkan gerakan literasi kecil di kampung, membuka lapak baca, membuat klub diskusi, atau menulis buku. Semua itu tidak perlu menunggu izin siapa pun. Tidak perlu rapat panjang. Tidak perlu proposal berlembar-lembar.
“Kalau memang bisa dikerjakan sendiri, ya kerjakan. Jangan terlalu lama rapat dengan diri sendiri,” katanya, setengah berkelakar.
Jenis kedua adalah ide yang harus dikerjakan orang lain yang memiliki otoritas. Dalam posisi ini, seseorang hanya menjadi pengusul.
“Ide dari kita, namun sifatnya hanya usul. Akan dieksekusi atau tidaknya, tergantung seberapa punya pengaruh kita terhadap orang yang harus menentukannya,” jelasnya.
Pada tahap ini, kata Fahrizal, relasi dan komunikasi menjadi kunci. Seberapa kuat jejaring sosial, seberapa dipercaya kapasitas kita, hingga seberapa relevan ide tersebut dengan agenda pengambil keputusan.
Meski demikian, ia menekankan bahwa pengusul masih punya peluang untuk terlibat dalam pelaksanaan.
“Namun, kita masih bisa menjadi bagian dari yang melaksanakannya,” tambahnya.
Jenis ketiga, inilah yang menurut Fahrizal paling sering dibicarakan, tetapi paling jarang bisa disentuh langsung, ide yang harus dikerjakan oleh pemerintah.
“Ide yang harus dikerjakan oleh Pemerintah, dalam skala yang lebih luas melibatkan kebijakan politik dan anggaran negara,” tegasnya.
Dalam posisi ini, masyarakat hanya menjadi komentator atau pencetus gagasan. Bukan pelaksana.
“Pihak Pemerintah yang harus menjalankannya pun juga belum tentu mengenal kita dan menganggap ide kita penting untuk dijalankan,” ujar Fahrizal lugas.
Ia menilai banyak aktivis atau warganet terjebak pada jenis ide ketiga ini. Diskusi panjang di media sosial, kritik berapi-api, tetapi tanpa akses struktural, ide itu berhenti sebagai wacana.
“Agar ide kita bisa dieksekusi, maka perlu untuk masuk dalam struktural dan prosesnya bisa sangat panjang,” katanya.
Masuk ke dalam sistem, menurutnya, bukan perkara mudah. Ada tahapan politik, birokrasi, hingga mekanisme anggaran yang harus dilalui. Butuh kesabaran, konsistensi, dan kesiapan untuk berproses.
Pernyataan Fahrizal ini dinilai relevan dengan dinamika gerakan literasi dan aktivisme sosial di daerah. Banyak gagasan bermunculan, tetapi tidak semuanya realistis secara eksekusi.
Fahrizal tidak sedang mengecilkan ide besar. Ia hanya mengajak publik untuk sadar posisi.
“Kalau kita hanya berada di luar sistem, ya sadar diri sebagai pengusul atau komentator. Jangan marah kalau belum tentu dijalankan,” pesannya.
Di tengah derasnya arus opini digital, pembagian tiga jenis ide ini menjadi pengingat bahwa gagasan tidak cukup hanya viral. Ia harus menemukan jalur eksekusinya.
Dan mungkin, seperti sindiran halus Fahrizal, sebelum sibuk mengubah negara, pastikan dulu kita menuntaskan ide yang bisa kita kerjakan sendiri.
0 Komentar