Menjelang azan magrib, suasana pusat kuliner dan pasar Ramadan berubah menjadi padat dan riuh. Orang berjalan cepat, antrean memanjang, penjual sibuk melayani pembeli.
Di tengah keramaian itu, ada Ahmad Fahrizal Aziz, atau yang akrab disapa Fahrizal. Ia ikut berburu takjil, tetapi dengan pilihan yang terukur.
Istilahnya populer: war takjil. Datang lebih awal, bergerak cepat, memilih sebelum kehabisan. Bagi Fahrizal, momen ini bukan urusan gengsi atau ikut-ikutan tren media sosial. Ia datang dengan strategi. Ia tahu apa yang akan dibeli bahkan sebelum sampai di lokasi.
Di banyak pasar Ramadan, pilihan makanan didominasi gorengan, minuman manis berwarna mencolok, kolak bersantan, dan aneka kue tinggi gula. Fahrizal tidak langsung tergoda. Baginya, takjil terbaik adalah air putih dan buah segar.
Air putih menjadi pembuka utama saat berbuka. Ia menghindari minuman dengan tambahan gula berlebihan. Setelah itu, ia memilih buah. Alasannya jelas: tubuh butuh cairan dan asupan yang ringan setelah berjam-jam menahan lapar dan haus.
Karena itu, langkahnya hampir selalu mengarah ke stand buah potong. Di antara deretan penjual gorengan dan minuman manis, lapak buah menjadi prioritas. Di sanalah ia merasa pilihan berbukanya paling aman.
Buah rendah gula menjadi favoritnya. Pepaya, buah naga, dan alpukat hampir selalu masuk kantong belanja. Pepaya yang matang memberi rasa manis alami dan tekstur yang mudah dicerna.
Buah naga terasa segar dan tidak terlalu berat di lambung. Alpukat, yang sering disajikan dengan susu kental manis atau sirup cokelat, lebih ia pilih dalam kondisi alami tanpa tambahan gula berlebih.
Menurutnya, berbuka bukan ajang balas lapar. Banyak orang merasa “kalap” setelah seharian puasa, lalu mengonsumsi gula dan lemak secara berlebihan. Dampaknya terasa beberapa jam kemudian: perut begah, tubuh lemas, dan rasa kantuk berat.
Fahrizal memilih pendekatan berbeda. Ia mengatur ritme makan. Air putih lebih dulu, lalu buah. Setelah salat magrib, barulah ia mempertimbangkan makanan berat.
Untuk menu utama, ia memiliki prioritas yang jelas: ikan laut. Dibandingkan ayam goreng tepung atau olahan daging berlemak tinggi, ikan laut menjadi pilihan pertama. Ia menyukai ikan bakar atau olahan dengan bumbu yang tidak berlebihan. Rasanya cukup kuat tanpa perlu banyak tambahan.
Menurutnya, ikan laut terasa lebih ringan dan tidak membuat tubuh cepat lelah setelah makan. Kandungan proteinnya membantu pemulihan energi tanpa membuat perut terasa terlalu penuh. Kombinasi buah segar dan ikan laut dianggapnya cukup untuk menjaga stamina hingga malam.
Kebiasaan war takjil ala Fahrizal akhirnya mencerminkan pola hidup yang ia pegang. Ia tetap menikmati suasana pasar Ramadan, tetap hadir di tengah keramaian, tetap ikut antre. Namun pilihannya konsisten. Ia tidak mengikuti arus mayoritas yang berburu makanan tinggi gula dan lemak.
Di tengah tren kuliner Ramadan yang semakin variatif dan sering kali berlebihan, pendekatan Fahrizal terlihat lebih terkendali. Ia datang ke pasar bukan untuk menumpuk makanan, melainkan untuk memilih dengan sadar.
War takjil, dalam versinya, adalah soal disiplin. Siapa cepat mungkin dapat lebih dulu. Tetapi siapa cermat akan merasa lebih nyaman setelahnya. Di tengah gemerlap aneka hidangan berbuka, ia membuktikan bahwa pilihan yang tepat bisa membuat Ramadan terasa lebih ringan dan tubuh tetap terjaga.

0 Komentar