Pagi itu, sehari setelah salat Id, saya duduk di ruang tamu rumah orang tua di pinggiran Blitar.
Pintu terbuka sejak pagi, seperti tradisi yang tak pernah ditulis tapi selalu dipatuhi. Anak-anak kecil datang bergelombang—sebagian masih memakai baju koko yang sedikit kebesaran, sebagian lagi sudah berlarian tanpa sandal.
Mereka tidak banyak bicara. Yang mereka tunggu hanya satu: amplop kecil yang diselipkan dengan senyum.
Di situlah saya mulai berpikir, soal yang tampak sepele tapi selalu muncul tiap tahun: sebenarnya, berapa “layak”-nya uang saku atau angpau Lebaran di Blitar?
Secara umum, orang-orang akan bilang tidak ada patokan pasti. Semua kembali pada kemampuan. Kalimat itu terdengar bijak, tapi dalam praktiknya sering menyisakan kebingungan.
Terutama bagi mereka yang baru mulai bekerja, atau yang pulang kampung setelah lama merantau.
Ada semacam tekanan sosial yang halus: jangan sampai terlalu kecil, tapi juga jangan berlebihan.
Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca hasil survei kecil yang dilakukan oleh komunitas lokal, Insight Blitar.
Hasilnya sederhana, tapi cukup membantu sebagai gambaran. Untuk anak-anak kecil yang bukan keluarga dekat, terutama di sekitar rumah, nominal yang umum berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000.
Tidak besar, tapi cukup untuk membuat mereka pulang dengan wajah berbinar.
Untuk anak dari teman dekat—apalagi yang datang dari agak jauh—angka itu sedikit naik, sekitar Rp10.000 sampai Rp20.000. Ada semacam penghargaan pada jarak dan relasi, meski tidak pernah diucapkan secara eksplisit.
Sementara itu, untuk keponakan dekat, khususnya yang masih di bawah 20 tahun, nominalnya biasanya berada di rentang Rp20.000 hingga Rp50.000. Di sini, kedekatan keluarga mulai terasa menentukan. Ada rasa tanggung jawab yang berbeda, meski tetap dibungkus dalam bentuk yang ringan.
Yang menarik, tradisi memberi angpau ini tidak serta-merta berhenti ketika seseorang sudah bekerja. Selama belum menikah, banyak yang masih menerima. Hanya saja, nominalnya cenderung lebih besar—mulai dari Rp50.000 hingga Rp100.000. Seolah-olah ada pengakuan diam-diam bahwa mereka sedang berada di fase transisi: belum sepenuhnya “mandiri”, tapi juga bukan anak-anak lagi.
Namun, di balik semua angka itu, saya merasa yang paling penting justru bukan nominalnya. Ada semacam energi kebersamaan yang sulit dijelaskan. Amplop itu hanyalah medium. Yang lebih terasa adalah kehadiran, sapaan, dan hubungan yang diperbarui setiap tahun.
Dan mungkin, di situlah letak “kelayakan” yang sebenarnya—bukan pada angka, tapi pada niat untuk tetap terhubung.

0 Komentar