Kemarin malam, sepulang tarawih, saya berjalan menyusuri kawasan dekat Stasiun Kota Blitar. Hujan baru saja mengguyur Kota Patria itu.
Jalanan masih basah, lampu-lampu jalan memantul di aspal yang mengilap, sementara gerimis kecil belum benar-benar berhenti.
Di suasana seperti itu, kota terasa lebih pelan—seolah semua orang berjalan dengan ritme yang lebih santai.
Saya lalu mampir ke sebuah kafe bernama Wood Coffee and Bistro. Letaknya tidak jauh dari stasiun. Dari luar tampak sederhana, tetapi ketika masuk suasananya cukup elegan—lampu temaram, meja kayu yang rapi, dan musik pelan yang membuat orang cenderung berbicara dengan suara lebih rendah.
Karena sebelumnya sudah berbuka puasa, saya tidak terlalu lapar. Maka saya memilih sesuatu yang ringan: French crepes.
Crepes adalah makanan penutup yang berasal dari Prancis. Bentuknya seperti panekuk yang sangat tipis, hampir menyerupai lembaran adonan yang dipanggang di atas wajan datar.
Dalam tradisi kuliner Prancis, crepes bisa diisi berbagai bahan—mulai dari cokelat, madu, buah-buahan, hingga krim. Rasanya ringan, tidak terlalu manis, dan biasanya dimakan sebagai dessert atau camilan sore.
Di kafe ini, crepes itu sudah diberi sentuhan lokal. Di dalamnya ada potongan pisang. Kombinasi yang menarik, karena pisang adalah buah yang sangat akrab di lidah orang Indonesia.
Di atasnya ditambahkan satu scoop es krim vanila yang perlahan mencair di atas permukaan crepes yang masih hangat.
Minumnya saya memilih strawberry tea—teh dengan aroma buah yang segar. Perpaduannya ternyata cukup serasi: manis ringan dari crepes, dingin lembut es krim, dan sedikit asam dari teh stroberi.
Yang menarik justru suasananya. Dari jendela kaca kafe, saya bisa melihat jalanan Kota Blitar di malam hari. Motor sesekali lewat, lampu toko memantul di genangan air, dan orang-orang berjalan cepat sambil menghindari sisa gerimis.
Blitar memang bukan kota besar. Tetapi justru karena itu, malamnya terasa lebih akrab. Tidak terlalu ramai, tidak juga benar-benar sepi.
Sambil menyendok es krim yang mulai mencair di atas crepes, saya tiba-tiba merasa bahwa kota-kota kecil seperti Blitar memiliki cara sendiri untuk membuat orang betah: hujan yang datang tanpa tergesa, jalanan yang tidak riuh, dan sebuah kafe kecil yang menyajikan makanan Prancis dengan potongan pisang yang sangat Indonesia.

0 Komentar