Di tengah menjamurnya konten digital serba cepat, Ahmad Fahrizal Aziz memilih tetap bertahan di jalur yang sunyi: buku, diskusi, dan komunitas literasi.

Selama lebih dari satu dekade, pria asal Blitar itu aktif membangun berbagai ruang belajar berbasis literasi. Mulai dari komunitas kepenulisan, forum diskusi buku, hingga gerakan peningkatan minat baca masyarakat. Aktivitasnya berlangsung relatif senyap, jauh dari hingar-bingar industri hiburan digital, tetapi konsisten berjalan dari tahun ke tahun.

Bagi Fahrizal, literasi bukan sekadar kegiatan membaca buku. Ia memandangnya sebagai cara manusia memahami realitas sekaligus bertahan hidup di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.

“Orang yang membaca biasanya punya lebih banyak sudut pandang ketika menghadapi masalah hidup,” katanya dalam sebuah forum komunitas di Blitar.

Pandangan itu lahir dari pengalaman panjangnya berkecimpung di dunia literasi sejak akhir 2000-an.

Memulai dari Dunia Kepenulisan

Perjalanan Ahmad Fahrizal Aziz di dunia literasi bermula dari komunitas kepenulisan Forum Lingkar Pena (FLP). Ia aktif di komunitas tersebut sejak 2008 hingga 2021.

Pada masa itu, FLP menjadi salah satu ruang penting bagi anak muda yang ingin belajar menulis. Banyak anggota komunitas belajar membuat cerpen, puisi, artikel, hingga novel secara kolektif melalui diskusi rutin dan proses mentoring.

Dari lingkungan itulah Fahrizal mulai memahami hubungan erat antara membaca dan menulis.

Menurutnya, seseorang yang serius belajar menulis hampir pasti akan membaca banyak buku. Karena itu, ia lebih tertarik mengembangkan komunitas kepenulisan dibanding sekadar membuka taman baca atau lapak buku.

Ia menilai menulis memiliki dimensi lebih luas. Tidak hanya mengonsumsi gagasan melalui bacaan, tetapi juga memproduksi gagasan baru dalam bentuk tulisan.

“Setelah membaca, orang akan merenung lalu menuangkan pengalaman dan pikirannya menjadi karya,” ujarnya.

Pandangan tersebut kemudian menjadi dasar berbagai komunitas yang ia bangun setelahnya.

Membangun Ruang Diskusi dan Kajian

Selain aktif di dunia kepenulisan, Fahrizal juga terlibat dalam sejumlah forum diskusi buku dan kajian pemikiran.

Pada 2013, ia ikut menggerakkan Paguyuban Srengenge, sebuah komunitas yang fokus mengkaji buku-buku pemikiran, agama, dan ideologi. Forum ini bertahan hingga 2024.

Diskusi di Paguyuban Srengenge dikenal cukup serius. Tema yang dibahas tidak hanya sastra, tetapi juga filsafat, sosial-politik, hingga pemikiran keagamaan.

Bagi Fahrizal, forum seperti itu penting karena masyarakat membutuhkan ruang berpikir yang lebih mendalam di tengah arus informasi instan media sosial.

“Sekarang orang terbiasa membaca potongan informasi pendek. Padahal banyak persoalan tidak bisa dipahami secara sederhana,” katanya.

Pada 2018, ia juga mengembangkan Komunitas Muara Baca yang fokus pada telaah buku bertema politik dan kebangsaan. Forum tersebut aktif hingga 2021.

Melalui komunitas itu, peserta tidak hanya membaca buku, tetapi juga mendiskusikan relevansinya terhadap kondisi sosial Indonesia.

Fahrizal menilai budaya diskusi penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis masyarakat. Menurutnya, membaca tanpa refleksi sering kali berhenti menjadi aktivitas konsumsi informasi semata.

Karena itu, hampir semua komunitas yang ia gerakkan selalu menggabungkan kegiatan membaca dengan menulis atau diskusi.

Literasi sebagai Cara Bertahan Hidup

Dalam berbagai kesempatan, Fahrizal kerap menekankan bahwa literasi memiliki hubungan erat dengan kesehatan mental dan kemampuan manusia menghadapi kehidupan.

Ia menilai pembaca buku biasanya memiliki kesiapan psikologis yang lebih baik ketika menghadapi tekanan hidup.

Menurutnya, buku menghadirkan pengalaman-pengalaman manusia dari berbagai zaman dan situasi. Dari sana, pembaca belajar memahami kesedihan, kehilangan, konflik sosial, hingga ketidakpastian hidup.

“Kadang orang merasa masalahnya paling berat karena dia tidak punya pembanding pengalaman,” ujarnya.

Ia melihat membaca sebagai ruang refleksi yang semakin penting di era digital. Ketika media sosial bergerak sangat cepat dan penuh kebisingan informasi, buku justru memberi kesempatan bagi seseorang untuk berpikir lebih tenang.

Karena itu, ia percaya literasi bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bagian dari mekanisme bertahan hidup manusia modern.

Menurut Fahrizal, masyarakat yang memiliki budaya membaca cenderung lebih tenang menghadapi perbedaan dan tidak mudah terprovokasi.

Bertemu Banyak Orang Ikhlas

Selama bertahun-tahun bergerak di dunia literasi, Fahrizal mengaku banyak bertemu orang-orang yang bekerja dengan semangat tinggi meskipun tanpa keuntungan finansial besar.

Ia menyebut aktivis literasi sebagai kelompok yang unik.

Menurutnya, sebagian besar orang yang bertahan di bidang literasi memang digerakkan oleh passion, bukan uang. Sebab dunia buku dan komunitas baca sering kali tidak menawarkan keuntungan ekonomi yang besar.

Ia pernah menemui orang yang rela menggunakan uang pribadi untuk membeli buku komunitas. Ada pula yang meminjamkan rumahnya sebagai tempat diskusi tanpa meminta bayaran.

Pengalaman semacam itu membuatnya percaya bahwa dunia literasi masih memiliki idealisme yang kuat.

“Banyak orang bergerak karena memang percaya buku bisa mengubah hidup,” katanya.

Bagi Fahrizal, perubahan itu memang tidak selalu terlihat besar. Namun ia menyaksikan sendiri bagaimana komunitas literasi membantu sebagian orang menjadi lebih percaya diri, lebih reflektif, dan lebih terbuka terhadap perbedaan pandangan.

Melihat Realitas Anggaran Literasi

Pengalaman lain yang cukup membekas baginya adalah ketika mulai bekerja sama dengan pemerintah melalui program literasi dan organisasi minat baca.

Sejak 2022 hingga 2025, ia terlibat dalam Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Blitar yang di dalamnya juga menaungi Perkumpulan Suara Sastra.

Dari pengalaman tersebut, Fahrizal memahami bahwa pengembangan literasi di daerah menghadapi tantangan yang tidak sederhana.

Ia melihat anggaran perpustakaan dan pengadaan buku masih relatif kecil dibanding sektor lain. Bahkan, menurut pengamatannya, dinas perpustakaan sering menjadi salah satu lembaga dengan alokasi anggaran paling terbatas.

Padahal, menurutnya, perpustakaan memiliki peran penting dalam pembangunan sumber daya manusia.

Kondisi itu membuat banyak program literasi harus berjalan dengan keterbatasan fasilitas dan dukungan dana.

Meski demikian, ia tetap melihat adanya semangat dari pustakawan dan komunitas lokal untuk menjaga budaya membaca tetap hidup.

Membaca dan Kebahagiaan

Salah satu refleksi menarik Ahmad Fahrizal Aziz adalah pandangannya tentang hubungan antara buku dan kebahagiaan.

Ia mengaku sering menemukan bahwa penikmat buku cenderung memiliki kehidupan batin yang lebih tenang. Bukan karena mereka kaya secara materi, tetapi karena memiliki keterhubungan emosional dengan sesuatu yang mereka cintai.

Menurutnya, membaca memiliki dimensi spiritual tersendiri.

Buku menciptakan ruang dialog antara manusia dan dirinya sendiri. Dalam proses membaca, seseorang tidak hanya menerima informasi, tetapi juga merefleksikan pengalaman hidupnya.

Fahrizal melihat banyak pembaca mampu menikmati kesendirian tanpa merasa sepi. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang terus hidup serta kemampuan untuk merenung.

Pandangan itu terbentuk dari pertemuannya dengan banyak pecinta buku selama lebih dari sepuluh tahun terakhir.

Di tengah dunia yang semakin cepat dan bising, ia percaya buku tetap akan bertahan.

“Selama manusia masih mencari makna hidup, buku akan tetap dibutuhkan,” katanya.

Selain mengelola berbagai komunitas, Fahrizal juga aktif mengembangkan akun Instagram “Sahabat Buku Blitar” serta blogger buku Narakata Media yang berisi ulasan dan aktivitas literasi.

Baginya, literasi bukan proyek sesaat. Ia adalah perjalanan panjang untuk menjaga kemampuan manusia berpikir, memahami, dan merawat kemanusiaannya sendiri.