Jurnal Rasa merupakan blog pribadi Ahmad Fahrizal Aziz yang memuat tulisan reflektif, ide, gagasan, hingga cerita dari realitas kehidupan sehari-hari. Blog ini hadir dengan pendekatan yang lebih personal, ringan, dan mudah dipahami, tanpa terlalu terikat pada formalitas penulisan yang baku dan kaku.
Secara harfiah, jurnal dapat dimaknai sebagai catatan. Sementara itu, kata “Rasa” menjadi identitas yang menggambarkan karakter tulisan di dalamnya. Rasa dalam konteks Jurnal Rasa merujuk pada pengalaman, sudut pandang, pemikiran, dan cara menikmati sebuah tulisan.
Gaya bahasa yang digunakan cenderung renyah dan mengalir. Fokusnya bukan pada kerumitan bahasa atau bentuk tulisan yang formal, melainkan pada gagasan dan pengalaman yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Berawal dari Blog Kuliner
Jurnal Rasa pada awalnya dirancang dengan fokus pada dunia kuliner. Namun, seiring waktu, cakupan tulisan berkembang menjadi lebih luas. Blog ini kemudian menjadi ruang untuk membicarakan berbagai ide, gagasan, pengalaman, maupun cerita yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan tersebut membuat Jurnal Rasa tidak lagi hanya menjadi blog kuliner. Ia berkembang menjadi blog personal yang dapat menampung beragam tulisan, mulai dari esai reflektif, catatan perjalanan pemikiran, hingga cerita mengenai realitas sosial dan kehidupan.
Blog yang Dibuat untuk Pembaca
Salah satu karakter Jurnal Rasa adalah desainnya yang dibuat nyaman untuk dibaca. Tampilan blog dirancang dengan prinsip yang tidak berlebihan sehingga pembaca dapat lebih fokus menikmati tulisan.
Jurnal Rasa juga tidak menggunakan iklan. Keputusan tersebut membuat tampilan halaman tetap bersih dan tidak dipenuhi elemen komersial yang dapat mengganggu pengalaman membaca.
Kesederhanaan desain menjadi bagian dari konsep Jurnal Rasa. Blog tidak hanya diposisikan sebagai tempat menyimpan tulisan, tetapi juga sebagai ruang membaca yang nyaman.
Berawal Sejak 2007
Ahmad Fahrizal Aziz mulai mengenal dunia blogging sejak 2007, ketika masih duduk di bangku MTs. Aktivitas blogging tersebut kemudian berkembang seiring perjalanan pendidikan, pekerjaan, dan pengalaman menulis.
Latar belakangnya sebagai jurnalis turut membuat blog memiliki posisi penting sebagai ruang publikasi yang lebih bebas dan independen. Jika media jurnalistik memiliki berbagai pertimbangan redaksional, blog memberikan ruang yang lebih personal untuk menyampaikan gagasan.
Blog juga dianggap lebih sesuai untuk menampung esai-esai reflektif dari keseharian karena sifatnya yang personal. Tulisan dapat berkembang dari pengalaman kecil menjadi gagasan yang lebih luas.
Berkembang Menjadi Jurnal Rasa Media
Jurnal Rasa kini tidak hanya merujuk pada satu blog. Ahmad Fahrizal Aziz juga mengelola sejumlah blog bersama tim, di antaranya Insight Blitar dan Blitar Story, selain belasan blog lainnya.
Berbagai media tersebut kemudian dihimpun dalam satu payung bernama Jurnal Rasa Media. Dengan demikian, Jurnal Rasa berkembang dari sebuah blog pribadi menjadi ekosistem media digital yang menaungi berbagai tulisan dan proyek publikasi.
Pada akhirnya, Jurnal Rasa tetap mempertahankan gagasan awalnya sebagai ruang untuk menulis dengan bahasa yang mudah dipahami. Bedanya, ruang tersebut kini menjadi lebih luas, mencakup berbagai topik, penulis, gagasan, dan media yang tumbuh bersama di bawah Jurnal Rasa Media.


0 Komentar