Transisi Musim, Catatan Perjalanan Menjadi Dewasa
Ada yang disambut dengan harapan, ada pula yang dijalani dengan keraguan.
Dari Berita ke Esai, Perjalanan Kepengarangan Ahmad Fahrizal Aziz
Ada jalan panjang sebelum seseorang menemukan bentuk tulisan yang paling sesuai dengan dirinya. Seorang penulis bisa memulainya dari berita, beralih ke puisi, mencoba cerpen, lalu menetap pada esai.
Perjalanan semacam itu dialami Ahmad Fahrizal Aziz, yang belakangan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menulis esai.
Ketertarikan Fahrizal terhadap dunia tulis-menulis tumbuh melalui beberapa lingkungan.
Ketika masih sekolah, ia belajar menulis berita lewat kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik.
Di sana, ia mengenal cara menyusun fakta, memilih informasi, dan menyampaikan peristiwa kepada pembaca. Berita menuntut ketepatan. Penulis tidak bisa seenaknya memasukkan perasaan pribadi ke dalam laporan.
Pengalaman itu menjadi bekal awal. Namun, dunia kepenulisan ternyata memiliki banyak pintu.
Ketika bergabung dengan Forum Lingkar Pena, Fahrizal mulai belajar menulis puisi dan cerita pendek. Jika berita mengajarkannya mencatat kenyataan, puisi dan cerpen memberinya kesempatan untuk mengolah imajinasi, perasaan, dan pengalaman manusia.
Dari situ, ia mengenal beberapa kemungkinan dalam menulis. Ada tulisan yang bertumpu pada fakta, ada yang bergerak melalui imajinasi, dan ada pula yang memberi ruang bagi pikiran untuk menguji suatu persoalan.
Belakangan, kemungkinan terakhir inilah yang paling menarik perhatiannya.
Ketika kuliah, Fahrizal mulai tertarik pada esai. Kebiasaannya menulis opini di koran menjadi pengalaman yang mengasyikkan.
Ada kepuasan tersendiri ketika gagasan yang semula berputar di kepala dapat disusun menjadi tulisan, dikirimkan ke redaksi, lalu dibaca khalayak. Kegiatan itu perlahan menjadi semacam candu intelektual.
Menulis opini membuat seseorang berhadapan dengan tuntutan yang berbeda. Ia tidak cukup hanya memiliki pendapat.
Ia perlu menyusun alasan, membaca persoalan dari beberapa sudut, serta menjelaskan mengapa sebuah gagasan layak dipertimbangkan.
Pendapat pribadi harus bertemu dengan fakta, penalaran, dan konteks sosial.
Fahrizal kemudian menggeluti esai dalam berbagai bentuk, mulai dari esai ilmiah hingga esai reflektif. Pada bentuk pertama, ia berhadapan dengan teori, referensi, dan argumentasi yang terstruktur.
Pada bentuk kedua, pengalaman sehari-hari menjadi bahan perenungan. Peristiwa kecil bisa membawanya pada pertanyaan yang lebih luas mengenai manusia, masyarakat, pendidikan, atau perubahan zaman.
Blog pribadi turut menunjang perkembangan tersebut. Melalui blog, ia memiliki ruang untuk menerbitkan tulisan tanpa harus selalu menunggu keputusan redaksi media massa. Gagasan dapat disimpan, dibaca kembali, diperbaiki, dan ditemukan oleh pembaca pada waktu yang berbeda.
Blog juga mengubah hubungan seorang penulis dengan tulisannya. Jika koran menyediakan ruang publikasi yang terbatas, blog memungkinkan tulisan terus hidup di ruang digital.
Esai yang ditulis beberapa tahun lalu masih bisa dibaca kembali, bahkan ketika penulisnya telah berubah dan memiliki pandangan yang berbeda.
Perjalanan Fahrizal memperlihatkan bahwa kepengarangan tidak selalu tumbuh dari satu jenis tulisan. Berita memberinya disiplin terhadap fakta.
Puisi dan cerpen memperkenalkannya pada pengolahan pengalaman dan imajinasi. Opini koran melatihnya merumuskan gagasan, sedangkan blog menyediakan ruang untuk mengembangkan kebiasaan tersebut secara berkelanjutan.
Kini, esai menjadi bentuk tulisan yang paling banyak digelutinya. Barangkali karena esai menyediakan ruang yang cukup luas untuk mempertemukan pengalaman, bacaan, pengetahuan, dan pemikiran pribadi.
Pada akhirnya, seorang penulis menemukan bentuknya bukan hanya dengan mempelajari teknik, melainkan juga melalui kebiasaan membaca, menulis, dan memikirkan kembali apa yang telah dialaminya.
Bagi Fahrizal, perjalanan dari berita menuju esai adalah proses menemukan cara yang paling sesuai untuk memahami kehidupan sekaligus membagikan pemahamannya kepada orang lain.




0 Komentar