Transisi Musim, Catatan Perjalanan Menjadi Dewasa



Ada masa ketika hidup seseorang berubah tanpa banyak upacara. Seorang anak meninggalkan bangku sekolah dasar, memasuki SMP, beranjak ke SMA, melanjutkan kuliah, lalu berhadapan dengan dunia kerja. 

Tidak ada lonceng khusus yang menandai perubahan itu. Namun, di setiap persimpangan, ada pengalaman yang membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.

Pengalaman semacam itulah yang menjadi bahan utama buku Transisi Musim, kumpulan esai karya Ahmad Fahrizal Aziz yang diterbitkan Jurnal Rasa Publishing pada 2019. 

Buku ini memuat 50 esai ringan tentang berbagai peralihan dalam kehidupan penulisnya, terutama ketika memasuki jenjang SMP, SMA, perkuliahan, hingga memulai pekerjaan.

Saya kira, menarik memperhatikan bagaimana seseorang merekam perjalanan hidupnya. Sebab, ingatan manusia bukanlah arsip yang selalu tersusun rapi. 

Ada peristiwa yang bertahan puluhan tahun, ada pula pengalaman yang baru memperoleh makna setelah seseorang melewati usia tertentu. 

Menulis menjadi salah satu cara untuk menata kembali ingatan itu.

Fahrizal memilih esai sebagai alat untuk melakukannya. Ia menulis pengalaman personal dengan bahasa yang ringan, renyah, dan reflektif. 

Pembaca tidak diajak memasuki ruang pengakuan yang penuh keluh kesah. Pengalaman sehari-hari justru menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih luas, mulai dari perubahan diri, hubungan sosial, pencarian identitas, hingga pergulatan seseorang dalam memahami kehidupan.

Di sinilah letak kekhasan Transisi Musim. Esai-esainya menyerupai catatan harian, tetapi tidak berhenti sebagai curahan perasaan. 

Fahrizal menyisipkan pemikiran filsafat dan teori psikologi untuk memperkaya pembacaan atas pengalaman tersebut. 

Pengalaman pribadi memperoleh konteks, sementara teori menjadi alat untuk memahami kenyataan yang dekat dengan kehidupan pembaca.

Tentu, teori tidak dengan sendirinya membuat sebuah tulisan menjadi lebih bermakna. Yang penting ialah bagaimana gagasan itu digunakan untuk menerangi pengalaman. 

Dalam buku ini, pendekatan tersebut memberi ruang bagi pembaca untuk melihat bahwa kegelisahan pada masa sekolah, kebingungan ketika kuliah, atau kecanggungan saat mulai bekerja bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Ada proses perkembangan manusia di baliknya.

Saya melihat judul Transisi Musim sebagai metafora yang cukup tepat. Musim selalu bergerak, membawa perubahan pada keadaan alam. Kehidupan manusia pun demikian. 

Masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa memiliki suasana serta tantangannya masing-masing. Tidak semua perubahan berlangsung mulus. 

Ada yang disambut dengan harapan, ada pula yang dijalani dengan keraguan.

Menariknya, Fahrizal sebenarnya tidak terlalu berkeinginan menerbitkan kumpulan esai ini dalam bentuk buku. 

Tulisan-tulisan tersebut telah tersedia secara gratis di blog pribadinya, Jurnal Rasa. 

Penerbitan terbatas pada 2019 akhirnya menjadi cara lain untuk menghimpun catatan yang semula tersebar di ruang digital.

Pilihan itu mengingatkan kita bahwa buku tidak selalu lahir dari ambisi besar untuk menghadirkan gagasan baru. 

Kadang-kadang, buku tumbuh dari keinginan merawat pengalaman, menyusun ingatan, dan membagikan pemahaman yang diperoleh sepanjang perjalanan.

Transisi Musim pada akhirnya merupakan catatan tentang perubahan. Ia tidak menawarkan jawaban untuk seluruh persoalan hidup. 

Buku ini mengajak pembaca menengok kembali masa-masa yang pernah dilewati, lalu bertanya apa yang sesungguhnya telah berubah dalam dirinya.

Sebab, menjadi dewasa bukan hanya perkara bertambahnya usia. Ada pengalaman yang perlu dipahami, kesalahan yang perlu ditafsirkan ulang, dan ingatan yang baru menemukan artinya setelah waktu berlalu.


Dari Berita ke Esai, Perjalanan Kepengarangan Ahmad Fahrizal Aziz

Ada jalan panjang sebelum seseorang menemukan bentuk tulisan yang paling sesuai dengan dirinya. Seorang penulis bisa memulainya dari berita, beralih ke puisi, mencoba cerpen, lalu menetap pada esai. 

Perjalanan semacam itu dialami Ahmad Fahrizal Aziz, yang belakangan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menulis esai.

Ketertarikan Fahrizal terhadap dunia tulis-menulis tumbuh melalui beberapa lingkungan. 

Ketika masih sekolah, ia belajar menulis berita lewat kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. 

Di sana, ia mengenal cara menyusun fakta, memilih informasi, dan menyampaikan peristiwa kepada pembaca. Berita menuntut ketepatan. Penulis tidak bisa seenaknya memasukkan perasaan pribadi ke dalam laporan.

Pengalaman itu menjadi bekal awal. Namun, dunia kepenulisan ternyata memiliki banyak pintu. 

Ketika bergabung dengan Forum Lingkar Pena, Fahrizal mulai belajar menulis puisi dan cerita pendek. Jika berita mengajarkannya mencatat kenyataan, puisi dan cerpen memberinya kesempatan untuk mengolah imajinasi, perasaan, dan pengalaman manusia.

Dari situ, ia mengenal beberapa kemungkinan dalam menulis. Ada tulisan yang bertumpu pada fakta, ada yang bergerak melalui imajinasi, dan ada pula yang memberi ruang bagi pikiran untuk menguji suatu persoalan. 

Belakangan, kemungkinan terakhir inilah yang paling menarik perhatiannya.

Ketika kuliah, Fahrizal mulai tertarik pada esai. Kebiasaannya menulis opini di koran menjadi pengalaman yang mengasyikkan. 

Ada kepuasan tersendiri ketika gagasan yang semula berputar di kepala dapat disusun menjadi tulisan, dikirimkan ke redaksi, lalu dibaca khalayak. Kegiatan itu perlahan menjadi semacam candu intelektual.

Menulis opini membuat seseorang berhadapan dengan tuntutan yang berbeda. Ia tidak cukup hanya memiliki pendapat. 

Ia perlu menyusun alasan, membaca persoalan dari beberapa sudut, serta menjelaskan mengapa sebuah gagasan layak dipertimbangkan. 

Pendapat pribadi harus bertemu dengan fakta, penalaran, dan konteks sosial.

Fahrizal kemudian menggeluti esai dalam berbagai bentuk, mulai dari esai ilmiah hingga esai reflektif. Pada bentuk pertama, ia berhadapan dengan teori, referensi, dan argumentasi yang terstruktur. 

Pada bentuk kedua, pengalaman sehari-hari menjadi bahan perenungan. Peristiwa kecil bisa membawanya pada pertanyaan yang lebih luas mengenai manusia, masyarakat, pendidikan, atau perubahan zaman.

Blog pribadi turut menunjang perkembangan tersebut. Melalui blog, ia memiliki ruang untuk menerbitkan tulisan tanpa harus selalu menunggu keputusan redaksi media massa. Gagasan dapat disimpan, dibaca kembali, diperbaiki, dan ditemukan oleh pembaca pada waktu yang berbeda.

Blog juga mengubah hubungan seorang penulis dengan tulisannya. Jika koran menyediakan ruang publikasi yang terbatas, blog memungkinkan tulisan terus hidup di ruang digital. 

Esai yang ditulis beberapa tahun lalu masih bisa dibaca kembali, bahkan ketika penulisnya telah berubah dan memiliki pandangan yang berbeda.

Perjalanan Fahrizal memperlihatkan bahwa kepengarangan tidak selalu tumbuh dari satu jenis tulisan. Berita memberinya disiplin terhadap fakta. 

Puisi dan cerpen memperkenalkannya pada pengolahan pengalaman dan imajinasi. Opini koran melatihnya merumuskan gagasan, sedangkan blog menyediakan ruang untuk mengembangkan kebiasaan tersebut secara berkelanjutan.

Kini, esai menjadi bentuk tulisan yang paling banyak digelutinya. Barangkali karena esai menyediakan ruang yang cukup luas untuk mempertemukan pengalaman, bacaan, pengetahuan, dan pemikiran pribadi.

Pada akhirnya, seorang penulis menemukan bentuknya bukan hanya dengan mempelajari teknik, melainkan juga melalui kebiasaan membaca, menulis, dan memikirkan kembali apa yang telah dialaminya. 

Bagi Fahrizal, perjalanan dari berita menuju esai adalah proses menemukan cara yang paling sesuai untuk memahami kehidupan sekaligus membagikan pemahamannya kepada orang lain.